Minggu, 14 Oktober 2012

Telaah Naskah Drama Menggunakan Pendekatan Objektif



Analisis Objektif Naskah Drama Roh Karya Wisran Hadi

1.Pendahuluan
Drama merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dibahas. Istilah drama berasal dari Yunani, yaitu dramoi yang berarti ‘aksi’ atau ‘perbuatan’. Istilah drama itu sendiri sudah menyiratkan makna ‘peristiwa’, ‘karangan’, dan ‘risalah’.
Menurut Ferdinan Brunetiere dan Balthazar Verhagen (dalam Hasanuddin 1996:2) drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan prilaku. Sedangkan pengertian drama menurut Moulto adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak, drama adalah menyaksikan kehidupan manusia yang diekspresikan secara langsung.
Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi, 2006:104).
Hasanuddin (1996:7) menjelaskan pengertian drama merupakan suatu genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog-dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni pertunjukan. Karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarangnya untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapannya mengenai peristiwa sosial yang ada di masyarakat.
Drama pada awalnya digunakan dalam suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Akan tetapi, ritual tersebut mengalami perkembangan menjadi oratoria, yaitu seni berbicara, kemudian berkembang menjadi drama.
Salah satu jenis drama yang berkembang adalah drama realisme. Realisme adalah aliran atau ajaran yang selalu berpegang pada kenyataan, dan dalam kesenian, aliran ini berusaha mengungkapkan sesuatu sebagaimana kenyataan yang ada. Realisme digambarkan sebagai peniruan, bukan dari karya seni tradisi, melainkan peniruan dari aslinya yang disajikan oleh alam.
Drama realis pada umumnya merupakan usaha untuk menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana subjek itu tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa melebih-lebihkan. Drama realis ingin memberikan wawasan dalam kenyataan kehidupan, memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan keburukan-keburukan yang ada. Pada umumnya, apa yang dikemukakan oleh drama realis adalah suatu kebenaran umum atau wajar.
Roh  merupakan sebuah drama buah karya Wisran Hadi. Roh pernah mendapat juara harapan II dalam sayembara penulisan naskah drama DKJ tahun 2003. Drama ini merupakan drama yang mendokumentasikan peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat khususnya dalam masyarakat Minangkabau, drama ini sekaligus bisa menjadi alat penghibur dan pendidikan bagi pembacanya.
Dalam Tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan objektif sebagai pendekatan dalam menganalisis naskah drama Roh karya Wisran Hadi. Pendekatan objektif merupakan sebuah pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang bersifat otonom maksudnya tidak perlu dihubungkan dengan pengarang, pembaca, ataupun relitas objektif. Pendekatan ini mencoba untuk memaparkan suatu karya sastra secara struktural. Penulis akan mencoba menganalisis drama Roh sebagai suatu karya yang mempunyai otonomi penuh. Oleh karena itu, penulis tidak mengaitkan karya dengan lingkungannya, seperti pengarang dan pembacanya. Penulis hanya membahas sistem formalnya yang membangun keutuhan karya, yaitu alur, latar, tokoh dan penokohan, tema serta amanat yang terkandung di dalam naskah drama Roh tersebut.
Prinsip umum pendekatan objektif antara lain sebagai berikut:
•Penganalisisan hanya bertumpu pada teks drama semata dan lepas dari unsur-unsur luar yang mempunyai andil penciptaan sebelumnya.
•Karya fiksi dibangun oleh beberapa unsur, seperti gaya bahasa, sudut pandang, alur, penokohan, dan latar.
•Penganalisisan drama sebagai genre sastra adalah dengan membongkar unsur ke subunsur yang sekecil-kecilnya, untuk disusun kembali logika rasional.
•Keseluruhan dan kebutuhan drama dipreteli menjadi unsur-unsur tetapi tidak dibiarkan terpisah dan terlepas.
•Antar unsur makna bahasa dengan unsur penunjang struktur bahasa, tidak dapat dilihat sebagai unsur-unsur yang berdiri sendiri.
•Penginterpretasian dilakukan bertahap-tahap sesuai dengan hubungan unsur-unsur yang sederajat dan setingkat.

2.Sinopsis Naskah Drama Roh
Dalam drama Roh, tokoh yang muncul ada lima belas orang, dua orang manusia biasa, sedangkan yang sebelas tokoh lainnya adalah roh. Dua orang itu adalah Manda dan Ibu Suri.
Pada bagian pertama naskah ini diawali dengan pemunculan tokoh yang bernama Manda, Ibu Suri, Tokoh I, dan Tokoh II. Tokoh-tokoh inilah yang pertama kali membuka jalan cerita dari naskah Roh ini, yang ditandai dengan tampilnya Manda dan Ibu Suri di tengah pentas. Manda mulai membaca mantra, tubuhnya menggigil untuk memanggil roh para tokoh dan arwah nenek moyang.
Manda melakukan ritual itu karena memenuhi permintaan Ibu Suri yang ingin mencari atau mengetahui keberadaan anaknya yang bernama Suri, sebab tokoh dipanggil Ibu Suri karena dia sangat mencintai Suri anaknya yang entah dimana. Mandalah yang menjadi perantara untuk memanggil roh-roh yang akan membantu mencari Suri.
Roh yang pertama dipanggil Manda adalah Tokoh I, pada awal kemunculannya, dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu ternyata Tokoh I yang ada dalam naskah bernama Datuk Katumanggungan. Dia pun mulai melakukan pencariannya untuk menemukan di mana keberadaan Suri. Tokoh I meminta Ibu Suri bersumpah agar anaknya bisa ditemukan, tetapi Ibu Suri tidak mampu melaksanakan syarat yang diberikan Tokoh I tersebut. Tokoh I menghilang Manda memanggil roh yang lain, muncul Tokoh II dia pun memperkenalkan diri yang mengaku sebagai Datuk Perpatih Nan Sebatang. Begitulah seterusnya tokoh-tokoh yang muncul mereka selalu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Datuk Perpatih pun melakukan pencariannya. Namun, pencarian yang dilakukan hasilnya pun tidak ada, Suri tidak kunjung ditemukan.
Manda selalu membantu Ibu Suri memanggil roh-roh nenek moyangnya untuk menemukan Suri bahkan Ibu Suri mau membayar Manda berapa saja asalkan Suri anaknya ditemukan. Manda pun mulai memanggil roh yang lainnya, tokoh berikutnya muncul namun hasilnya juga tidak ada. Begitulah kerja tokoh-tokoh yang dipanggil Manda, pencariannya selalu tidak membuahkan hasil sama sekali  untuk Ibu Suri, tokoh-tokoh yang muncul selalu menyangsikan keberadaan Suri.
Kemarahan Ibu Suri pun mencapai puncak dan menganggap roh-roh yang dipanggil Manda adalah roh para bandit dan penipu karena menyangsikan Suri dan mengaburkan keberadaan Suri. Manda yang awalnya digelari Ibu Suri sebagai perantara dua dunia sudah tidak dia percayai lagi bahkan Manda digelari perantara dusta atau medium mesum dalam memanggil roh-roh nenek moyangnya. Akhirnya dengan kepercayaan yang tinggi Ibu Suri sendiri yang memanggil roh para tokoh untuk menemukan anaknya Suri. Usaha yang dilakukan Ibu Suri selalu dibayang-bayangi oleh Manda bahkan Manda selalu menasehati Ibu Suri bahwa orang yang berteman dengan setan syirik hukumnya dan neraka jahanam ancamannya. Ibu Suri tidak menghiraukan perkataan Manda, dia tetap melakukan ritual yang Manda lakukan untuk memanggi roh dan arwah nenek moyang.
Roh-roh yang dipanggil Manda dan Ibu Suri yang terdiri dari Tokoh I hingga tokoh XIII adalah roh nenek moyang dan orang terkenal sebagian besar dari tokoh-tokoh Minangkabau  yang entah kapan dan bagaimana meninggalnya berhasil dipanggil Manda dan Ibu Suri. Akan tetapi ada seorang tokoh yang selalu disebut-sebut dari awal hingga akhir yaitu Suri anak yang dicari-cari Ibu Suri keberadaannya kalau masih hidup di mana rimbanya dan jika sudah meninggal di mana kuburannya, pada akhirnya dia tidak pernah muncul.

3.Analisis Naskah Drama Roh
a.Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan menyatakan bahwa alur adalah roh drama (Sumardjo, 1994: 141).
Alur Roh adalah alur maju atau linear yaitu peristiwa yang dikisahkan dimulai pertama kali oleh Ibu Suri yang mencoba menggunakan jasa perantara yaitu Manda untuk menanyakan Suri kepada roh-roh yang dipanggil. Karena Suri belum diketahui dengan jelas, maka Ibu Suri terus memakasa Manda untuk memanggil roh, Ibu Suri merasa dibohongi akhirnya dia sendiri yang memanggil roh dan arwah nenek moyang yang dipanggil-panggil Manda pada awal cerita hingga mencapai tiga belas roh yang dipanggil. Ibu Suri selalu tidak puas dengan roh yang dipanggil, hingga akhirnya ia menggali sebuah makam yang ia yakini adalah kuburan Suri. Ternyata setelah digali, dan dibuka kain kafannya, itu adalah jenazah Manda. Di bagian akhir cerita juga diungkapkan Ibu Suri bahwa Suri yang ia cari-cari, yang diakuinya sebagai anak satu-satunya pelanjut keturunan dan yang akan mewarisi harta dan tanah pusaka pada awal cerita ternyata bukan siapa-siapa bagi bagi Ibu Suri.
MANDA
Nah, kan. Aku lagi yang disalahkan. Nyatanya menemukan aku. Perempuan begini selalu menginginkan aku terus jadi perantara. Padahal aku sudah dikubur. Tapi, dia tetap saja memungkiri. O, perempuan.
Para roh datang berputar-putar mengelilingi Ibu Suri. Manda ikut menghilang dalam putaran para roh itu. mereka terus berputar-putar dan suara mereka terdengar seperti suara telapak kaki kuda berlari.
Ibu Suri bangkit dan berputar-putar di tengah putaran para roh dengan selembar kain putih yang lebih besar. kain putih itu mengembang di udara, membawahi para roh yang bergulung-gulung. dengan kain hitam mereka.
perlahan diturunkannya kain putihnya, dan kini yang kelihatan hanya wajah Ibu Suri yang  letih memandang ke kejauhan.
IBU SURI
Suri. Ya, aku bukan Ibumu. Dan juga kau bukan anakku. Tak mungkin kau ku anakkan, kau pun tidak mungkin diperanakkan. Suri, bagiku kau hanya satu. Satu untuk segalanya. Satu untuk semuanya.
Perlahan membeku. Matanya redup. Ada sesungging senyum di bibirnya. Manis sekali.
b.Latar
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita (Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44). Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material (Hudson dalam Teeuw, 2003: 44). Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya.
Latar sosial dalam Roh yaitu lingkungan yang masih kental adat dan tradisi yaitu pengobatan tradisional yang memakai jasa perantara. Bahasa yang mereka gunakan kasar dan kurang sopan.
Guru agamaku tak mampu menerangkan di mana Suri. Penghulu adatku tak dapat menjelaskan kemana Suri. Mesin hitungku tak kunjung mengurai. Sansai kah Suri?. Manda, kemana lagi aku harus bertanya. Berita Koran tak lagi menyakinkan. Siaran televisi sulit diyakini. Iklan majalah susah dipercaya.
Latar fisik dalam drama Roh yaitu di sebuah perkampungan daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Penggambaran latar fisik dalam drama ini sangat jelas dan mendetail, seperti yang dicirikan dalam sebuah karya drama realis.
Latar tempat dalam naskah drama Roh ini tidak dideskripsikan dengan jelas yaitu penulis hanya menuliskan bahwa tampah-tampah yang berisi sesajian seperti buah-buahan, bunga, daun-daunan, kemenyan, dan lainnya yang diletakkan dipinggir dan sudut-sudut pentas.
c.Tokoh dan Penokohan
-Ibu Suri, Ibu Suri memiliki karakter keras kepala, egois, dan kasar terbukti dari dialog-dialognya yang sering memaksa Manda untuk memanggil roh walaupun Manda tidak mau, bahkan ketika permintaannya tidak dikabulkan oleh Manda, maka dia sendiri yang akan memanggil roh, dan roh yang tidak ia perlukan ia usir dengan kasar.
MANDA
Ibu Suri termasuk orang beriman, jangan berteman dengan setan. Syirik hukumnya., syirik.

IBU SURI
Syirik atau syarak. Dosa atau dasi, desa atau dasa, Manda peduli apa!? Suri pasti ada. Suri tidak boleh disangsikan! Ayo Manda, pergi! Aku akan meletakkan sesajian. Bagi roh dan arwah yang akan diundang.
-Manda, tokoh yang dapat menjadi perantara untuk memanggil roh-roh, dia bukanlah seorang tabib ataupun dukun. Manda memiliki karakter yang mistis dan suka membantu untuk memanggil roh-roh, walaupun begitu dia selalu mengingatkan Ibu Suri bahwa perbuatan syirik dengan memanggil roh adalah dosa.
MANDA
Ibu Suri, bertanya pada roh para tokoh atau pun arwah nenek moyang merupakan tipu muslihat setan memperdaya keimanan. Syirik hukumnya bila dikerjakan. Neraka jahanam ancamannya. Begitu kata guru agamamu.
IBU SURI
Guru agamaku tak mampu menerangkan di mana Suri. Penghulu adatku tak dapat menjelaskan kemana Suri. Mesin hitungku tak kunjung mengurai. Sansai kah Suri?. Manda, kemana lagi aku harus bertanya. Berita Koran tak lagi menyakinkan. Siaran televisi sulit diyakini. Iklan majalah susah dipercaya.
-Tokoh I, Datuk Ketumanggungan
TOKOH I (Menurunkan kain hitam penutup tubuhnya. Wajahnya putih sekali dan kaku. Ibu suri takut melihatnya, tapi ditahannya ketakutan itu sekuat tenaga)
Akulah datuk Ketumanggungan, putra satuk Sri Maharaja Diraja.
Di Pariangan Padang Panjang. Peletak dasar sistem adat Koto Piliang
Tiada rakyat tanpa raja, hidup berjenjang naik, bertangga turun
Dan, aku pun mati juga, walaupun menang dalam perang saudara.
Berkubur di bawah beringin songsang beribu tahun silam.
IBU SURI
Selamat datang Datuk Ketumanggungan
-Tokoh II, Datuk Perpatih Nan Sebatang
-Tokoh III, Sutan
-Tokoh IV, Raja Kaciak
-Tokoh V, Mengaku sebagai Suri
-Tokoh VI, Roh Wayang
-Tokoh VII, Mengaku sebagai Suri
-Tokoh VIII, Roh Kembar
-Tokoh IX, Roh Kembar
-Tokoh X, Roh Anjing
-Tokoh XI, Roh Asing
-Tokoh XII, Malin Kundang
-Tokoh XIII, Malin Deman
d.Tema dan Amanat
Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra itu (Sudjiman, 1991:50). Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra.
Tema yang diangkat adalah tentang sebuah adat pemanggilan roh dengan menggunakan jasa perantara.
Wisran Hadi menyebutkan bahwa pengobatan demikian masih berlangsung sampai sekarang. Tidak hanya pada masyarakat tradisional saja, tetapi juga pada masyarakat modern saat ini. Pada umumnya kegiatan pengobatan begini masih berlangsung di kampung-kampung dalam kawasan pesisir (rantau) timur Minangkabau, seperti daerah Kuantan. Cara pengobatan seperti itu disebut masyarakat di sana dengan nama tagak balian.
Dalam tahapan cerita berikutnya, dikembangkan pula bentuk sebuah acara tradisional yang lain, yaitu meminta berkah ke tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat. Upacara minta berkah ini juga masih berlangsung sampai sekarang, terutama dalam masyarakat tradisi yang berada di kawasan pesisir (rantau) timur Minangkabau, seperti di daerah Kuantan. Di Pariaman misalnya upacara minta berkah seperti ini disebut basapa.
Selain itu penceritaan Roh ini diselingi dengan randai dan indang, dua bentuk kesenian yang tradisi Minangkabau yang masih populer sampai sekarang. Berikut ini contoh dari randai dan indang:
“Suri. Jika rindu kampungmu tiba
Jangan pulang ke kampung asal
Yang kini jadi asal kampung
Dimamah lurah dirancah punah.
…………………………………”
Pesan yang ingi disampaikan pengarang kepada pembaca yaitu:
1.Lewat naskah dramanya ini, Wisran Hadi telah mendokumentasikan peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat, sekaligus sebagai alat penghibur dan pendidikan bagi pembacanya.
2.Di daam zaman yang modern dan canggih seperti sekarang ini, orang-orang masih mempercayai hal-hal yang mistis sebagai mana yang ada pasa masa dahulu kala. Seperti meminta sesuatu hal kepada roh-roh nenek moyang yang dianggap mempunyai kekuatan yang besar.
3.Meminta pertolongan kepada roh-roh nenek moyang merupakan hal yang sangat dibenci Allah SWT, karena merupakan perbuatan yang syirik. Orang yang melakukan hal yang demikian sama dengan menduakan Alla SWT perbuatan yang demikian sangat dilaknat Tuhan dan diancam akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam kelak. Serta meminta kepada roh dan arwah tidak pasti hasilnya antara ada dan tiada.

Referensi
Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya.
WS, Hasanuddin. 1996. DRAMA, Karya Dalam Dua Dimensi Kajian Teori, Sejarah, dan Analisis. Bandung: Angkasa.


Psikolinguistik



TUGAS
PSIKOLINGUISTIK
Tentang
Makalah Penelitian
Gangguan Berbahasa Gagap Bicara







Oleh:
Kelompok 8
Andri Saputra (NPM 08090162)
Ihsan Hadi (NPM 09080174)
Nasrul Rajab (NPM 09080350)
Riyo Amriadi (NPM 09080192)











Yayasan Persatuan Guru Republik Indonesia Sumatera Barat
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Padang
2012


KATA PENGANTAR
          Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Gangguan Berbahasa  Gagap Bicara”.
         Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam pembuatan makalah ini. 
        Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat menyelesaikan dengan baik dan oleh karenanya, penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran, dan usulan guna penyempurnaan makalah ini.
           Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
                                                                                                                 

                                                                                                               Padang, 6 Juni 2012


                                                                                                                Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A.Latar Belakang 1
B.Rumusan Masalah 2
C.Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A.Arti Gagap Bicara 3
B.Macam-macam Gagap Bicara 4
C.Penyebab Gagap Bicara 5
D.Tanda-tanda Gagap Bicara 6
E.Makalah yang Berkaitan dengan Gagap Bicara
BAB III HASIL TEMUAN DAN ANALISIS 14
A.Identitas Anak 14
B.Riwayat Anak 15
C.Analisis 17
BAB IV PENUTUP 19
A.Kesimpulan 19
B.Saran 20
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Berbahasa merupakan proses mengomunikasikan bahasa tersebut. Proses berbahasa sendiri memerlukan pikiran dan perasaan yang dilakukan oleh otak manusia untuk menghasilkan kata-kata atau kalimat. Secara teoritis proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika dan enkode fonologi. Enkode semantik dan enkode gramatika berlangsung dalam otak, sedangkan enkode fonologi dimulai dari otak lalu diteruskan pelaksanaannya oleh alat-alat bicara yang melibatkan sistem syaraf otak bicara. Ketiga enkode tersebut berkaitan dalam kegiatan produksi bahasa seseorang, yang juga berkaitan erat dengan hubungan antara otak dan organ bicara seseorang.
       Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa, baik produktif maupun reseptif (menerima tanggapan dari orang lain). Jadi, kemampuan berbahasa terganggu.
         Gangguan-gangguan berbahasa tersebut sebenarnya akan sangat mempengaruhi proses berkomunikasi dan berbahasa. Banyak faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan adanya gangguan berbahasa, kemudian faktor-faktor tersebut akan menimbulkan gangguan berbahasa. Maka dari itu, dalam makalah ini akan dijabarkan gangguan berbahasa yang dialami manusia khususnya anak yaitu salah satunya berbicara gagap berserta faktor-faktor yang menyebabkannya.
B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan maka penulis mengambil permasalahan dan merumuskannya dalam pertanyaan yakni, apa faktor yang menyebabkan anak berbicara gagap?
C.Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui faktor yang menyebabkan anak berbicara gagap.


BAB II
PEMBAHASAN
GANGGUAN BERBAHASA GAGAP BICARA
A.Arti Gagap Bicara
Tertahan-tahan, tertegun-tegun tidak lancar ketika berbicara (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Gagap adalah gangguan bicara dimana suara, suku kata, atau kata-kata diucapkan berulang atau berkepanjangan sehingga mengganggu aliran normal berbicara. Sekitar 100% orang dewasa gagap, dimana 80% laki-laki dan 20% perempuan.
      Dari hasil berbagai penelitian yang melibatkan sampel dalam jumlah besar, fenomena bicara gagap ini lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 4:1. Hal tersebut juga sering bersifat "datang dan pergi", artinya dua minggu hilang, kemudian muncul lagi. Apabila itu adalah ketidaklancaran normal (normal disfluency) yang berarti bahwa meskipun kelancaran itu adalah penyimpangan tetapi penyimpangan itu adalah hal yang normal pada anak-anak. Bahkan kita orang dewasa juga masih melakukan pengulangan dalam kondisi tertentu, asumsi utamanya adalah anak sedang berusaha menggunakan bentuk-bentuk baru dari bahasa yang dikuasainya yang memerlukan kemahiran mengeluarkan bunyi atau makna yang baru.
        Bentuk pengulangan tersebut dapat berupa bunyi (m-m-m-mama), suku kata (ma-ma-ma-mama), kata (mama-mama-mama mau mana?), frasa (mama mau-mama mau-mama mau mana?), bunyi memanjang (mmmmmm....mama), kesulitan start (...................mama), dan pause yang sering dan tidak menentu.
      Gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat dapat diselesaikan (Abdul Chaer, 2003: 153).
        Gagap adalah gangguan bicara atau kesalahan dalam ucapan dengan cara mengulang-ulang bunyi, suku kata atau kata, atau pengulangan konsonan dan suku kata secara spasmodic (terjadi pengejaan).
Dapat disimpulan bahwa, gagap berbicara merupakan gangguan bicara dan bahasa dimana aliran bicara normal (lancar) merupakan pengulangan sering terganggu oleh suara atau suku kata, perpanjangan kata-kata atau frasa dan penyumbatan aliran udara.
B.Macam-macam Gagap Bicara
1.Stammering adalah kesulitan berbicara.
2.Suttering adalah kesulitan mengeluarkan kata-kata tertentu.
Pengelompokan gagap suttering berdasarkan fasenya:
a.Gagap perkembangan
Ketidaksingkronan emosi anak yang mengebu-gebu dan pengaturan alat bicara biasanya terjadi pada anak usia 2-4 tahun.
Kondisi  gagap  pada  periode usia  2-4  tahun merupakan  keadaan  yang  masih  wajar  terjadi  sebagai bagian  dari  proses perkembangan bicara anak. Gagap biasanya muncul karena kontrol emosinya yang  masih  rendah  dan  antusiasme  anak  untuk  mengemukakan  ide-idenya belum  dibarengi  dengan  kematangan  alat  bicaranya.  Sementara  pada  anak remaja  biasanya  disebabkan  karena  rasa  kurang  percaya  diri  dan  kecemasan akibat perubahan fisik, mental dan sosial yang sedang dialaminya.
b.Gagap sementara
Gagap yang disebabkan faktor psikologis biasanya terjadi pada anak usia 5-8 tahun. Umumnya  disebabkan  oleh  faktor  psikologis, misalnya  anak  mulai  memasuki  lingkungan  baru  yang  lebih  luas,  seperti lingkungan  sekolah  dan  pergaulan, sehingga  anak  memerlukan  waktu  untuk menyesuaikan diri baik secara mental maupun sosial.
c.Gagap menetap
Gagap yang tidak ada upaya atau ikhtiar disembuhkan seumur hidup. Biasanya  lebih  banyak disebabkan  oleh  faktor  kelainan  fisiologis  alat  bicara  dan  akan  terus berlangsung, kecuali dibantu dengan terapi wicara (speech therapy).
C.Penyebab Gagap Bicara
Hal-hal yang dianggap mempunyai peranan dalam menyebabkan terjadinya kegagapan itu.
a.Faktor-faktor “stress” dalam kehidupan berkeluarga.
b.Pendidikan anak yang dilakukan secara diktator, dengan membentak-bentak, serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c. Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d.Faktor neurotik famial (Abdul Chaer, 2003: 153-154).
Kegagapan adalah disfasia yang ringan (Sidharta dalam Abdul Chaer, 2003: 154). Selanjutnya, kegagapan ini lebih sering berjadi pada kaum laki-laki daripada kaum perempuan, dan lebih banyak pada golongan remaja daripada golongan dewasa (Chauchard dalam Abdul Chaer, 2003: 154).
Gagap bicara disebabkan banyak faktor antara lain faktor biologis, sosiologis, dan  psikologis. Selanjutnya akan dibahas satu persatu sesuai dengan literatur yang ada.
a.Faktor Biologis
-Kelahiran Prematur atau riwayat kelahiran bayi yang lahir prematur biasanya mengalami kerusakan mental. Sering pertumbuhan jiwa dan jasmaninya tertunda atau mengalami kelambatan.
-Genetik terjadi ketika ada garis keturunan yang membawa presdiposisi rentan terhadap serangan gagap bicara. Gangguan saraf atau neorologis terdapat gangguan pada kordinasi dari fungsi motorik untuk berbicara.
b.Faktor Sosiologis
-Lingkungan keluarga yang disebabkan tekanan psikologis dari keluarga.
-Lingkungan masyarakat yang terasa asing sehingga membuatnya tertekan.
c.Faktor Psikologi umumnya karena ketidakmatangan emosi seseorang atau kelambanan perkembangan emosi seseorang.
D.Tanda-tanda Gagap Bicara
Sebenarnya gagap tidaknya seorang anak sudah bisa dideteksi sejak fase true speech (bicara benar) di usia 18 bulan. Kegagapan ini akan tampak jelas di usia 4-5 tahun  karena  pada usia ini seharusnya perkembangan bahasa anak sudah baik, pemahamannya  sudah  bagus,  pembentukan  kalimat,  bahasa  ekspresif,  dan kelancaran  bicaranya  juga  sudah  bagus,  serta  sosialisasi  anak  pun  sudah  lebih luas.
       Kondisi  gagap  pada  anak  bervariasi  dari  yang  ringan  sampai  berat.  Pada gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata dengan huruf awal b, d, s, dan t. Huruf b, d, s, t adalah huruf yang membutuhkan tenaga pada saat mengucapkannya dan justru kata-kata yang diawali dengan huruf itulah yang sering mengalami gangguan pengucapan pada penderita gagap.
       Penderita  gagap  umumnya  juga  sering  diikuti  oleh  gerakan  berulang  pada bagian tubuh yang tak bisa dia kendalikan. Namanya tics, yang terjadi pada wajah atau  gerak-gerak  kecil  pada  bagian  punggung  yang  berulang  dan  tak  terkendali. Gerakan  ini  merupakan  representasi  perjuangan  dari dalam  dirinya  yang  berat untuk dapat berbicara lancar. Napasnya pun relatif lebih cepat. Serangan gagap ini dapat terjadi setiap saat dan pada situasi-situasi tertentu seperti harus berbicara di hadapan orang-orang yang dianggapnya memiliki kelebihan daripada dirinya.
      Sementara  pada  gagap  yang  ringan,  anak  dalam  keadaan  tertentu  dapat bicara  normal   dan  lancar  saat  sedang  sendiri,  berbisik,  menyanyi,  dan  diantara orang-orang  yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya dibanding dirinya. Serangan  gagap  bisa  dialami  bila  ia  merasa  malu,  rendah  diri  atau  terlampau menyadari kondisi dirinya.
      Secara  umum  tanda-tanda  kegagapan  yang  harus  diwaspadai  oleh  orang tua maupun  guru  menurut  Dr.  Ehud  Yairi,  Ph.D.  dari  Department  of  Speech  and Hearing Science, Universitas Illinois, Amerika Serikat adalah sebagai berikut :
-Mengulang-ulang bunyi lebih dari dua kali, seperti i-i-i-ini.
-Anak tampak tegang dan berjuang untuk bicara (tampak dari otot-otot wajah, terutama di sekitar mulut).
-Nada suara mungkin naik seiring pengulangan
-Kadang suara anak seperti tercekat, udara atau suara tertahan selama beberapa detik.
-Jika anak  mengalami  kegagapan  dalam  10%  lebih pembicaraannya,  maka kegagapannya dianggap cukup parah.
E.Makalah yang Berkaitan dengan Gagap Bicara
Penelitian terdahulu tentang gangguan gagap bicara ini diuraikan oleh Adek Thia di dalam blognya melalui situs internet http://pengeliminirgagapbicara.blogspot.com.html, makalah tersebut berjudul “Pengeliminir Gagap Bicara”.
     Pemicu munculnya gagap bicara, kesulitan  penderita gagap bervariasi dari satu situasi ke situasi lain.  Misal penderita gagap dapat berbicara normal atau lancar bila ia sedang sendiri, berbisik atau menyanyi, serta bila si penderita berada dalam lingkungan yang lebih muda daripada dirinya dan di antara orang-orang yang ia pikir lebih rendah posisinya.
      Serangan gagap akan terjadi apabila ia harus berbicara di hadapan orang-orang yang ia pikir memiliki kelebihan darinya. Frekuensi serangan gagap akan menjadi sering ketika ia merasa malu, rendah diri, atau terlampau menyadari kondisi dirinya.
Dari hasil studi literatur ada beberapa cara mengeliminir gagap bicara, yaitu terbagi menajadi dua secara garis besar:
-Medis atau eksternal
-Psikologis atau internal
a.Pengeliminir Gagap secara Medis
      Dewasa ini kecanggihan teknologi di bidang kesehatan sangat maju. Dengan berbagai jenis terapi yang ada penyakit bisa disembuhkan dan aman untuk digunakan. Misalnya: terapi holistic, hypnoterapi, NLP (Neuro Linguistic Programming), dan lainnya.
1.Terapi holistic
Terapi holistic yang  terdiri dari gabungan hypnoterapi, psikoterapi, NLP Therapy, teknik-teknik penngembangan diri dari NLP, pijat syaraf (Voice Nerve Massage) serta teknik Instant Public Speaking.
Para ahli therapis mampu menyembuhkan gagap ini dengan satu kali terapi holistic, kemajuan kesembuhan sangat cepat.
2.Hypnoterapi
Hypnoterapi cukup akrab ditelinga kita. Hypnotherapy adalah terapi yang dilakukan pada subyek dalam hypnosis. Kata “hypnosis” kependekan dari istilah James Braid’s (1843) “neurohynotism”, yang berarti “tidurnya sistem saraf”. Orang yang terhipnotis menunjukan karakteristik tertentu yang berbeda dengan yang tidak, yang paling jelas adalah mudah disugesti. Hypnotherapy sering digunakan untuk memodifikasi perilaku subyek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubung stress, manajemen rasa sakit, dan perkembangan pribadi. (Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).
Cara  atau teknis hypnotherapy penderita gagap bicara yakni melewati beberapa proses. Pertama dilakukan intake interview yang harus hati-hati dan sangat empati agar tidak menambah stress pasien.
Kemudian harus cukup dengan holistic yakni selain self labeling (belief system) yang diubah, trauma healing juga diajarkan instant relaxation dimanapun  berada.
Gagap yang parah, mutlak harus ditambah dengan facial massage (hasil penelitian pribadi saya) secara bertahap dan diberi pekerjaan rumah dalam hal “berbicara” sampai level tertentu. Karena hardwere saraf-saraf di wajah menjalankan fungsi berbicara, biasanya sangat kaku, sehingga “perintah” berbicara dari otaknya tidak dapat dengan sempurna  dilaksanakan  oleh organ-organ alat bicara.
3.NLP (Neuro Linguistic Programming)
Membangun kembali citra diri atau sugesti dengan bahasa yang mudah diterima oleh otak dan tersimpan dengan baik sehingga mampu menjadi kordinator seluruh sistem organ. Sehingga semua komponen tubuh beserta saraf saling bekerja sama untuk mendapat hasil yang positif (Sandy Mac Greorge. Piece of Mind).
NLP sendiri sulit untuk didefinisiksn bahkan  para pakar dan pendiri NLP masih memberikan definisi berlainan agar para peserta mudah memahami manfaat dan tujuan yang akan didapat.
NLP adalah strategi pembelajaran  yang ditingkatkan untuk deteksi dan utilisasi pola-pola didalam dunia (John Grinder).
NLP adalah apa saja yang bisa berfungsi dan memberi hasil (Robert Dilts)
NLP adalah studi sistematik tentang  komunikasi manusia (Alex von Uhde).
Adapun istilah actual “Neuro linguistic Programming” muncul dari tiga bidang studi utama:
-Neurology ialah tentang otak dan bagaimana kita berfikir
-Linguistic ialah tentang bagaimana kita menggunakan bahasa dan bagaimana dampaknya terhadap kita.
-Programming ialah tentang bagaimana kita mengurutkan tindakan-tindakan.
Richard Bandler dengan singkat menggambarkan NLP sebagai membantu orang belajar bagaimana menggunakan otaknya lebih efektif memacu otak mereka daripada sekedar otak yang memacu mereka.
Bandler dan Ginder pada mulanya berusaha menemukan apa  sebenarnya fungsi untuk mencapai hasil positif untuk klien terapi, dengan cara menguji keterkaitan antara perilaku aktual siterapis dengan pemikiran perasaan si klien (Phillip dan Jenny).

b.Pengeliminir Gagap Bicara Secara Psikologis
Penyembuhan atau pengelimiinir gagap bicara dapat secara psikolog mengingat salah satu penyebab dari faktor psikologis.
1.Motivasi dari orang-orang terdekat
-Tenang dan acuhkan saja dan berbicara sabar dengan sang penderita dengan memberikan contoh berbicara dengan pelan dan tenang.
-Berikan contoh latihan mengatur nafas dan kontrol emosi.dengan cara ini anak akan meniru contoh orang tua. Ajak sang anak untuk sama-sama membaca buku cerita yang disukai pelan-pelan dengan sentuhan-sentuhan kecil dibahu  dan tangan agar nyaman.
-Berikan pujian jangan dimarahi. Pujian adalah motivasi secara tidak langsung yang membuat sang anak lebih bersemangat untuk berbicara.
2.Latihan wicara
-Latihan bicara keras, kalau malu lakukan dikamar tertutup rapat.
-Latihan pidato sendiri.
-Kalau perlu berbicara sendirian dengan benda mati.
3.Adanya fasilitas
-Dipaksa untuk berbicara kepada orang banyak.
-Berbicara kepada khalayak ramai (pidato, ceramah, dan menjadi penyiar).
-Diberi motivasi agar mau berbicara.
4.Lebih menggali potensi
Manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk sehingga apa yang  Allah SWT titipkan dipergunakan dengan maksimal dan amanah yakni digunakan sebagai fasilitas rukuk dan sujud kita pada Allah. At-tin: 4.
Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun orang sholeh dan amanah bukan menjadi minder justru akan menutupi dengan kelebihannya.  Serta terus menggali potensi yang tersembunyi.
Adanya semangat untuk bersaing dan tidak takut untuk mencoba.



BAB III
HASIL TEMUAN DAN ANALISIS
A.Identitas Anak
a.Data Anak
Nama : Rahmi Yulita
Jenis kelamin : Perempuan 
TTL : Sijunjung, 26 Juli 2003
Anak ke : 1
Agama : Islam
Nama Sekolah : SD Negeri 13 Sijunjung
Alamat : Kenagarisn Sungai Batuang, Kab. Sijunjung 
b.Data Orangtua
Nama Ayah : Yanto
TTL : Sijunjung, 2 Februari 1978
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Alamat : Sijunjung
Nama Ibu : Helmi Yulita
TTL : Sijunjung, 8 Juli 1987
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kenagarian Sungai Batuang, Kab. Sijunjung 
Kakek : Si Am
TTL : Sijunjung, 10 April 1950
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani
Alamat : Kenagarian Sungai Batuang, Kab. Sijunjung
B.Riwayat Anak
a.Riwayat kelahiran
Kehamilan 
Mengalami keguguran sebelumnya? :Tidak
Merasa bingung/sedih/kesal karena : Tidak
Anak tergolong yang diinginkan? :Ya
Kelahiran
Umur kandungan : Cukup
Saat kelahiran : biasa dengan cara : Normal
Tempat  kelahiran : di rumah sendiri
Ditolong oleh : Bidan
Berat badan bayi : 3,6 kg 
b.Riwayat makanan
Menetek ibu hinggga umur : 2 tahun
Minum susu kaleng dari umur : 8 bulan
Kualitas makanan : baik
Kuantitas makanan : cukup
c.Riwayat perkembangan fisik
Telukup : 3 bulan, duduk : 6 bulan, berdiri : 9 bulan
Berjalan : 13 bulan
Berbicara kata-kata pertama : 3 tahun
Berbicara dengan kalimat lengkap : 4 tahun
Kesulitan dalam berbahasa : 6 tahun
d.Faktor sosial dan personal
Hubungan dengan saudara (kandung) : baik
Hubungan dengan teman : kurang
Hobi : nonton
Minat : bernyanyi
Sikap orangtua terhadap anak : baik
Penerimaan dan tanggung jawab : cukup
Sikap terhadap masalah belajar : cukup
e.Riwayat pendidikan
Masuk TK umur : 5 tahun
Bantuan yang pernah terima anak : belum pernah
Sikap anak terhadap guru : baik
Sikap anak terhadap sekolah : baik

C.Analisis
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan di lapangan tepatnya di Nagari Sungai Batuang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung. Menjadi subjek penelitian yaitu seorang anak perempuan yang bernama Rahmi Yulita. Dari  observasi  yang  dilakukan,  kasus  ini  memang  mempunyai  masalah kegagapan.  Ia sering mengulang-ulang kata  dan kesulitan  mengucapkan huruf-huruf tertentu ketika berbicara. Dia mengalami salah satu gangguan berbicara yaitu gagap bicara.
Dia menderita gagap bicara semanjak masuk sekolah dasar saat berumur 6 tahun, dari data riwayat si penderita gagap tersebut di atas mulai dari proses kehamilan sampai masuk jejang pendidikan sekolah dasar si penderita termasuk ke dalam kategori anak yang normal karena sejak proses kehamilan sampai ibunya melahirkan dalam keadaan normal.
         Rahmi Yulita menurut keterangan ibunya dia mengalami gangguan berbahasa sejak berumur 6 tahun tepatnya saat duduk di bangku kelas satu sekolah dasar dan belum pernah mendapatkan bantuan baik medis maupun psikologis dari gangguan berbahasa gagap bicara yang dideritanya. Ada dua jenis gagap berbicara yaitu stammering adalah kesulitan berbicara dan suttering adalah kesulitan mengeluarkan kata-kata tertentu.          Rahmi Yulita termasuk kepada orang yang mengalami gagap berbicara suttering adalah kesulitan mengeluarkan kata-kata tertentu, karena dari observasi yang dilakukan dia sangat susah mengucapkan kata-kata yang berawalan huruf A misalnya ketika mengucapkan kata mama (a-a-a-ama) dan K misalnya ketika mengucapkan kata kemari (k-k-k-kemari).
           Gagap suttering ini atau jenis gagap kesulitan mengeluarkan kata-kata tertentu juga mempunyai tiga fase yaitu gagap perkembangan, gagap sementara, dan gagap menetap, dari fase-fase tersebut  si penderita termasuk kepada kelompok fase gagap sementara atau gagap ringan sebab si penderita mulai mengalami gagap bicara saat berumur 6 tahun, ketika dia memasuki lingkungan baru yang lebih luas yaitu saat memasuki lingkungan sekolah serta pergaulan yang baru.
            Di pandang dari faktor penyebab gagap bicara yaitu pada faktor fisiologis yang berkaitan dengan masalah genetik, orang tua dari subjek observasi yang dilakukan memberikan keterangan bahwa ayah kandung dari si penderita juga mengalami gagap bicara yang juga dideritanya sejak kecil dan itu berlangsung sampai sekarang. Serta orang tua laki-laki dari si ayah (kakek dari Rahmi Yulita) juga mengalami gangguan berbahasa gagap bicara dan ini juga dideritanya sejak kecil juga masih gagap bicara sampai saat sekarang ini.
           Faktor penyebab penderita gagap bicara dari observasi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa, Rahmi Yulita menderita gagap bicara yang tergolong kepada faktor fisiologis yaitu berkaitan dengan masalah genetik atau gangguan organis. Sebab ayah dan kakek dari si penderita sudah lebih dahulu mengalami gangguan berbahasa yaitu gagap bicara. Jadi, gagap bicara yang diderita Rahmi Yulita merupakan turunan dari ayah dan kakeknya.



BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
Gagap  merupakan  suatu  gangguan  bicara  dimana  aliran  bicara  terganggu tanpa  disadari  dengan  adanya  pengulangan  dan  pemanjangan  suara,  suku  kata, kata  atau  frasa,  serta  jeda  atau  hambatan  tak  disadari  yang  mengakibatkan gagalnya  produksi  suara.  Kalau  dalam  komunikasi,  gagap  merupakan  salah  satu gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan ujaran.
        Kondisi  gagap  pada  anak  bervariasi  dari  yang  ringan  sampai  berat.  Pada gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata dengan huruf  awal  b,  d,  s,  dan  t,  juga  sering  kali  diikuti  oleh  gerakan  berulang  pada bagian  tubuh  yang  tak  bisa  dia  kendalikan  yang  terjadi  pada  wajah  atau  gerak-gerak  kecil  pada  bagian  punggung  yang  berulang  dan tak  terkendali.  Napasnya pun  relatif  lebih  cepat.  Serangan  gagap  ini  dapat  terjadi  setiap  saat  dan  pada situasi-siatuasi  tertentu  seperti  harus  berbicara  di  hadapan  orang-orang  yang dianggapnya memiliki kelebihan daripada dirinya.
        Sementara  pada  gagap  yang  ringan,  anak  dalam  keadaan  tertentu  dapat bicara  normal   dan  lancar  saat  sedang  sendiri,  berbisik,  menyanyi,  dan  diantara orang-orang  yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya dibanding dirinya. Serangan  gagap  bisa  dialami  bila  ia  merasa  malu,  rendah  diri  atau  terlampau menyadari kondisi dirinya.
         Gagap  tidak  akan  berlanjut  sampai  dewasa  bila  anak  diterapi  dengan  baik dan  segera.  Selain  itu  juga  dibutuhkan  dukungan  dari  lingkungan  keluarga  dan sekitarnya.  Untuk  masalah  kecemasannya  bisa  dikonsultasikan  ke  psikolog, masalah  bicaranya  ke  terapis  wicara,  dan  masalah performance/kinerjanya  keterapis okupasi.
B.Saran
Berikut  beberapa  hal  yang  bisa  dilakukan  baik  oleh orang tua  ataupun  guru dalam menghadapi anak yang gagap:
-Menjadi  contoh  penutur  yang  baik  yaitu  dengan  berbicara  jelas,  perlahan, tidak memburu-buru diri sendiri.
-Tidak  memberi  label/cap  apapun  tentang  cara  bicara anak  (seperti  "gagap", "tidak lancar").
-Tidak  memberi  perhatian  khusus  terhadap  pengulangan-pengulangan  yang dilakukan anak.
-Tidak  mengatakan  "Pelan-pelan  bicaranya,  Sayang"  atau  "Tenang,  Nak... Tenang" pada anak.
-Beri anak kesempatan seluas-luasnya untuk bicara tanpa interupsi.
-Tidak membantu mengucapkan kata-kata untuk anak ketika ia sedang bicara, juga melarang orang lain melakukan hal itu untuk anak.
-Mencegah  orang  lain  (terutama  saudaranya)  mengejek atau  meniru-niru  cara bicara anak.
-Sering-sering  menyediakan  waktu  khusus  untuk  mengobrol,  membacakan buku, atau bermain dengan anak.



DAFTAR PUSTAKA
Adek Thia. 30 September 2011. Artikel: Pengeliminir Gagap Bicara, (Online),        (http://pengeliminirgagapbicara.blogspot.com/2011/09/pengeliminir-gagap-bicara.html, diakses 14 Juni 2012).
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.
http://id.wikipedia.org/wiki/Gagap
Jatmiko. 19 Oktober 2010. Artikel: Gangguan Berbahasa, (Online), (http://micocaem89.blogspot.com/2010/10/makalah-psikolinguistik.html, diakses 6 Juni 2012).
Joko Kusmanto. 30 September 2003. Artikel: (Balita Anda) Permasalahan Gagap, (Online), (http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg15866.html, diakses 17 Juni 2012).
Ruth Novasari. 24 September 2009. Artikel: Gagap pada Anak (Penyebab dan Terapinya), (Online), (http://16happyday.blogspot.com/2009/09/gagap-pada-anak-penyebab-dan-terapinya.html, diakses 6 Juni 2012).
www.hipno-bicara.blogspot.com
-