Saturday, November 15, 2014

E Jurnal Ilmiah "KONFLIK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL ANAK DAN KEMENAKAN KARYA MARAH RUSLI"

KONFLIK TOKOH UTAMA DALAM
NOVEL ANAK DAN KEMENAKAN

KARYA MARAH RUSLI

E JURNAL ILMIAH


Diajukan  Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA 1)














IHSAN HADI
NPM 09080174










PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2014



CONFLICTS BY THE MAIN CHARACTER
IN THE NOVEL ANAK DAN KEMENAKAN
BY MARAH RUSLI

Oleh
IhsanHadi1, Yulia Sri Hartati2, Lira Hayu Afdetis Mana3
1) Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat
2) 3) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP  PGRI Sumatera Barat
 


ABSTRACT


This research come from many conflicts and reality in our society, especially in Minangkabau society. Novel Anak dan Kemenakan written by Marah Rusli is one of novel that show many conflicts in Minangkabau society. In this novel show many conflicts done by the main characters Mr. Muhammad Yamin in his life. This conflicts known as external and internal conflicts. The purpose of this research is to describe a kind of conflicts that victim’s by the main character and cause of conflicts in novel Anak dan Kemenakan by Marah Rusli. Method in this research is a descriptive methods. The result of this research show conflict experienced by the main character in novel Anak dan Kemenakan by Marah Rusli is external conflict consist of physic conflict and social conflict that make main character feel internal conflicts. Conflicts is caused by social relationship, identity, transformation, conflict, and also human needs.

Keyword: Conflicts, Character,  Novel Anak dan Kemenakan



KONFLIK TOKOH UTAMA DALAM
NOVEL ANAK DAN KEMENAKAN
KARYA MARAH RUSLI

Oleh
Ihsan Hadi1, Yulia Sri Hartati2, Lira Hayu Afdetis Mana3
1) Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat
2) 3) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP  PGRI Sumatera Barat
 


ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh konflik-konflik yang ada di dalam realita kehidupan masyarakat, khusunya dalam masyarakat Minangkabau. Novel Anak dan Kemanakan karya Marah Rusli merupakan salah satu novel yang menggambarkan konflik-konflik yang dialami dalam masyakat Minangkabau. Dalam novel ini banyak terdapat konflik yang dialami oleh tokoh utama bernama Mr. Muhammad Yatim dalam perjalanan kehidupannya. Konflik yang dialami tokoh utama dalam novel ini adalah konflik eksternal dan konflik internal. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan jenis konflik yang dialami tokoh utama serta penyebab terjadinya konflik dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis konflik yang dialami tokoh utama dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli ialah konflik eksternal yang terbagi atas konflik fisik dan sosial akibat konflik eksternal yang terjadi mengakibatkan tokoh utama juga mengalami jenis konflik internal atau batin. Konflik disebabkan oleh hubungan masyarakat, identitas, transpormasi konflik, serta kebutuhan manusia.

Kata Kunci: Konflik, Tokoh, Novel Anak dan Kemenakan

PENDAHULUAN
Umumnya manusia dalam kehidupan sehari-hari sering mengalami konflik. Begitu juga yang tercipta dalam manusia rekaan pada suatu karya sastra. Setiap tokoh mengalami konflik dalam perjalanan kehidupannya. Konflik yang tercipta pada tokoh dalam suatu cerita memegang peranan penting karena tanpa adanya konflik cerita tersebut tidak akan mencapai sebuah klimaks. Konflik yang terjadi dalam sebuah cerita baik itu antarsatu tokoh dengan tokoh yang lain atau dengan dirinya sendiri dapat berhasil apabila memunculkan emosi bagi pembacanya sehingga pembaca seolah-olah berada di posisi tokoh tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa cerita itu akan menjadi hidup kalau ada konflik yang terjadi pada tokoh.
Novel Anak dan Kemenakan merupakan novel ketiga karya Marah Rusli. Novel Anak dan Kemenakan mampu menghadirkan konflik yang kuat dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, hingga jalinan cerita mampu menerbitkan rasa penasaran untuk membaca cerita kelanjutannya. Selain itu, dengan keahlian pengarang dalam menghadirkan konflik membuat novel ini menarik untuk dianalisis dengan pendekatan objektif. Kelebihan novel ini terletak pada cerita yakni penderitaan yang di alami Mr. Muhammad Yatim sebagai tokoh utama sehingga berpotensi untuk menimbulkan konflik.
Berdasarkan uraian di atas, fokus masalah penelitian ini adalah jenis konflik dan penyebab terjadinya konflik pada tokoh utama dalam novel Anak dan Kemenakan Karya Marah Rusli. Tujuan penelitian ini adalah (1) endeskripsikan jenis konflik yang dialami tokoh utama dalam novel Anak  dan Kemenakan karya Marah Rusli, (2) mendeskripsikan penyebab terjadinya konflik pada tokoh utama dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli.
Kajian teoretis yang berhubungan dengan permasalahan yang akan diteliti yaitu teori konflik menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 1995:124) konflik sebagai bentuk kejadian dibedakan dalam dua kategori yaitu: (1) konflik eksternal (external conflict), (2) konflik internal (internal conflict) serta menurut Layn (2010) seorang pakar di bidang sosiologi menyatakan bahwa penyebab terjadinya konflik adalah (1) hubungan masyarakat, (2) kebutuhan manusia, (3) negosiasi prinsip, (4) identitas, (5) kesalahpahaman antarbudaya, serta (6) transformasi konflik.

METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan metode deskriptif. Semi (1993:32) mengemukakan penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak mengutamakan angka-angka. Data dalam penelitian ini adalah tentang konflik tokoh utama yang terdapat dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli yang telah diinventarisasi dan diklasifikasikan sesuai dengan format pencatatan, selanjutnya dianalisis berdasarkan teori  konflik Stanton dan teori penyebab konflik Layn sebagaimana telah dipaparkan pada kerangka teoretis.  Tahap analisis yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menganalisis data sebagai berikut: (1) mengklasifikasikan data berdasarkan alur, penokohan, dan latar, (2) mendeskripsikan data yang sudah diinventarisasikan, (3) pembahasan, (4) menginterpresentasikan data yang sudah dianalisis, (5) membuat kesimpulan berdasarkan hasil penelitian, dan (6) menulis laporan. Teknik pengabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik uraian rinci.

HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Tokoh utama dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli ini ialah Mr. Muhammad Yatim atau Mr. Yatim merupakan tokoh utama dalam cerita. Tokoh Mr. Yatim menjalankan perannya sesuai alur cerita. Mr. Yatim merupakan sosok lelaki yang teguh, begitu juga soal jodoh. Mr. Yatim merupakan pemuda yang berpendidikan tinggi ia berhasil mendapat gelar doktor di bidang hukum di negeri Belanda. Meskipun begitu, Mr. Yatim merupakan seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya dan juga merupakan seorang hakim yang baik yang disukai oleh orang-orang di sekitarnya.
Konflik yang dialami tokoh utama (Mr. Muhammad Yatim) dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli, konflik itu antara lain konflik eksternal dan konflik internal. Konflik itu berkaitan dengan yang telah dideskripsikan sebelumnya yaitu alur, penokohan, dan latar sebab unsur-unsur tersebut dekat kaitannya dengan konflik. Berbicara tentang alur berarti di dalamnya termasuk konflik, berbicara tentang penokohan berarti di dalamnya terdapat tokoh siapa saja yang mengalami konflik, serta berbicara tentang latar berarti di dalamnya terdapat dimana dan kapan konflik itu terjadi. Dalam penelitian ini banyak ditemukan konflik yang membangun alur cerita Anak dan Kemenakan.
Ada empat hal penting yang diperjuangkan tokoh utama, Mr. Yatim dalam perjalanan hidupnya yang tergambar dalam cerita Anak dan Kemenakan, yaitu: (1) perjuangan Mr. Yatim untuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang master di bidang hukum, (2) Perjuangan Mr. Yatim untuk dapat beristrikan perempuan yang sangat dicintainya, (3) perjuangan Mr. Yatim agar dapat keluar dari belenggu adat-istiadat negerinya, dan (4) perjuangan Mr. Yatim untuk menemukan ayah kandungnya. Keempat hal tersebut secara bersama-sama dan saling berhubungan membentuk alur novel tersebut. Dari peristiwa itu lahirlah konflik eksternal, baik konflik yang terjadi antara tokoh utama dengan lingkungan (fisik), maupun konflik antara tokoh utama dengan tokoh yang lain (sosial) serta konflik internal.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang jenis konflik dan hal yang menyebabkan terjadinya konflik dapat disimpulkan sebagai berikut:
A.    Jenis Konflik Tokoh Utama
Berdasarkan deskripsi data yang dilakukan terhadap tokoh utama dalam novel Anak dan Kemenakan Karya Marah Rusli dapat disimpulkan bahwa tokoh utama Mr. Muhammad Yatim dalam novel ini mengalami dua jenis konflik. Kedua jenis konflik yang ditemukan dalam novel ini yaitu konflik eksternal dan internal sesuai dengan teori konflik Stanton. Konflik menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 1995:124) konflik sebagai bentuk kejadian dibedakan dalam dua kategori yaitu: (1) konflik eksternal (external conflict), (2) konflik internal (internal conflict).
1.     Konflik Eksternal
a.     Konflik fisik
Konflik eksternal (fisik) yang dialami tokoh utama Mr. Yatim disebabkan oleh adat-istiadat negerinya sendiri yang membagi tingkat derajat dalam kehidupan bermasyarakat.
b.     Konflik sosial
Konflik sosial yang dialami tokoh utama Mr. Yatim yaitu: 1) Mr. Yatim dengan orang tua Puti Bidasari, 2) Mr. Yatim dengan orang tuanya, 3) Mr. Yatim dengan sahabat karibnya Sitti Nurmala dan dr. Aziz, dan 4) Mr. Yatim dengan Sutan Ali Akbar.
2.     Konflik Internal
Konflik internal atau konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli, banyak disebabkan oleh konflik yang terjadi karena pertentangan hati atau jiwa tokoh utama Mr. Yatim dengan tokoh lain dalam cerita.
B.    Penyebab Terjadinya konflik
Berdasarkan analisis data yang dilakukan terhadap jenis konflik baik itu konflik eksternal maupun konflik internal yang dialami tokoh utama novel Anak dan Kemenakan yaitu Mr. Yatim dalam perjalanan kehidupannya memiliki penyebab terjadinya konflik. Penyebab terjadinya konflik pada tokoh utama yaitu Mr. Yatim yang ditemukan di dalam novel ini adalah (a) hubungan masyarakat, (b) identitas, (c) transpormasi konflik, serta (d) kebutuhan manusia sesuai dengan teori Layn (2010).

SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tokoh utama Mr. Muhammad Yatim dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli mengalami konflik eksternal dan internal. Konflik eksternal (fisik) yaitu konflik yang terjadinya antara tokoh utama dengan lingkungan alam tempat ia tinggal, yang tercermin dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli di mana konflik itu dikarenakan adat-istiadat Minangkabau yang mengungkung dan membelenggu serta membagi dalam tingkat kehidupan masyarakat. Konflik eksternal (sosial) yaitu konflik yang terjadinya antara tokoh utama dengan orang di sekitarnya, yang tercermin dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli yaitu konflik yang terjadi antara Mr. Yatim dengan orang tua Puti Bidasari masalah tidak disetujuinya rencana perkawinan mereka, konflik Mr. Yatim dengan ayah angkatnya Sutan Alam Sah yang memaksa ia kawin dengan Sitti Nurmala wanita yang tidak dicintainya. Konflik internal atau batin tokoh utama yang tercermin dalam novel Anak dan Kemenakan ini banyak terjadi akibat konflik yang dialami Mr. Yatim dengan tokoh lain.
Penyebab konflik yang dialami Mr. Yatim dalam perjalanan kehidupannya ada dalam novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli antara lain disebabkan karena adanya ketidaksamaan pemikiran antara kaum muda dan kaum tua terutama masalah adat, Mr. Yatim mempunyai masa lalu yang belum jelas bahwa ia bukan anak kandung Sutan Alam Sah melainkan anak tukang pedati yang tidak diketahui di mana keberadaannya, ketidaksetaraan tingkat kebangsawanan Mr. Yatim dengan Puti Bidasari menjadi penghambat mereka tidak bisa menikah, serta disebabkan oleh kebutuhan dasar Mr. Yatim sebagai seorang manusia (fisik, mental, dan sosial) yang tidak terpenuhi atau cenderung terhalangi.
SARAN
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru Bahasa dan Sastra Indonesia agar dapat dijadikan sebagai bahan ajar dalam mengajarkan apresiasi sastra di SMA, khususnya mengenai konflik yang terdapat dalam novel. Bagi siswa hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan siswa untuk menambah wawasannya serta menumbuhkan sikap apresiasi terhadap karya sastra. Bagi peneliti selanjutnya dapat menjadikan novel Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli sebagai objek kajian dan penelitian lebih lanjut, yang berkaitan dengan aspek lain.
KEPUSTAKAAN
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University.
Rusli, Marah (ed). 2004. Anak dan Kemenakan. Jakarta: Balai Pustaka.

Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Saturday, February 08, 2014

Sinopsis Novel Anak dan Kemenakan Karya Marah Rusli


            Cerita dalam novel Anak dan Kemenakan ini berawal dari kedatangan pemuda Minangkabau yang telah menyelesaikan pendidikannya di negeri Belanda, dengan membawa gelar master dan doktor dalam bidang kehakiman. Setelah sampai di tanah air tempat kelahirannya ia disambut dengan gembira oleh penduduk Padang atas keberhasilannya di rantau dengan membawa oleh-oleh yang orang Padang belum mempunyai kala itu. Pemuda Minang itu bernama Mr. Dr. Muhammad Yatim.
            Mr. Dr. Muhammad Yatim yang biasa dipanggil Mr. Yatim ini merupakan anak Sutan Alam Sah seorang bangsawan kota Padang yang waktu itu menjabat pekerjaan Hopjaksa di Padang dan ia sangat disegani penduduk Padang. Ibunya bernama Sitti Mariama yang juga berasal dari keluarga bangasawan. Merekalah yang menyekolahkan Mr. Yatim sampai kenegeri Belanda dengan mendapatkan gelar yang tinggi, bahkan sesampai di tanah airnya pun mendapatkan pangkat yang tinggi di kantor kehakiman kota Padang.
            Keberhasilan Mr. Yatim ini disambut gembira oleh penduduk Padang, terutama oleh seorang saudagar kaya raya kota Padang yang bernama Baginda Mais mengambil inisiatif untuk mengadakan perayaan penyambutan atas kedatangan Mr. Yatim ini. Acara itu dipersiapkan Baginda Mais dengan begitu meriahnya, serta mengundang pejabat-pejabat tinggi kota Padang dan penduduk Padang juga diperbolehkan menghadiri acara ini. Baginda Mais mengadakan acara ini selain dalam rangka menyambut Mr. Yatim ternyata di balik itu semua dia juga mempunyai rencana lain yaitu dia ingin mengawinkan putrinya Sitti Nurmala dengan Mr. Yatim. Rencana Baginda Mais ini dikatakan kepada Sutan Alam Sah ayah Mr. Yatim, tetapi Sutan Alam Sah sudah mempunyai rencana yang lain pula bahwa ia ingin menikahkan anaknya Mr. Yatim dengan kemenakannya Puti Bidasari. Mendengar pernyataan Sutan Alam Sah membuat Baginda Mais kecewa, ia pun berusaha membatalkannya dengan membujuk Puti Renosari ibu Puti Bidasari agar menikahkan Puti Bidasari dengan Sutan Malik yang merupakan kemenakan berketurunan tinggi Sutan Pamenan.
            Bujukan Baginda Mais diterima oleh Puti Renosari, Puti Renosari pun pergi ke rumah Sutan Alam Sah untuk membicarakan rencana itu. Sesampai di rumah Sutan Alam Sah terjadilah pertengkaran antara kakak beradik ini. Puti Renosari merupakan kakak Sutan Alam Sah tidak menyetujui Puti Bidasari menikah dengan Mr. Yatim, karena Puti Renosari mengetahui bahwa Mr. Yatim bukan anak kandung kandung Sutan Baheram melainkan anak seorang tukang pedati yang hina. Puti Renosari tidak ingin bermenantukan orang yang tidak sederajat tingkat kebangswanan dengan keluarganya, walaupun Mr. Yatim berpangkat tinggi dan telah diangkat derajatnya oleh Sutan Alam Sah itu tiada berpengaruh untuk tetap bisa menikah dengan anaknya karena adat istiadat yang dianut kaum Padang sangat kuat.
            Setelah kejadian itu Sutan Alam Sah pun memaksa Mr. Yatim menerima lamaran Baginda Mais untuk mau menikah dengan anaknya Sitti Nurmala. Sitti Nurmala merupakan tunangan sahabat karibnya dr. Aziz, keinginan Sutan Alam Sah tidak dapat ia tolak karena Mr. Yatim merasa berhutang budi kepada Sutan Alam Sah. Rencana pernikahan Mr. Yatim dengan Sitti Nurmala dan Puti Bidasari dengan Sutan Malik berhasil digagalkan oleh dr. Aziz. Akhirnya Mr. Yatim tidak jadi menikah dengan Sitti Nurmala, karena posisinya digantikan dr. Aziz. Puti Bidasari pun tidak jadi menikah dengan Sutan Malik.
            Pada suatu waktu datanglah seorang bangsawan dari Inderapura bermana Sutan Ali Akbar dengan istrinya Puti Rohana untuk mencari kakaknya Sutan Ali Rasyid yang telah lama menghilang. Mereka menumpang menginap di tempat Sutan Alam Sah, setelah bercakap-cakap Sutan Ali Akbar melihat cincin yang dipakai Mr. Yatim yang sama dengan cincin yang ia pakai. Ternyata cincin itu diyakini Sutan Ali Akbar kepunyaan kakaknya Sutan Ali Rasyid, maka ditelusurilah asal usul Mr. Yatim maka diketahui ternyata Mr. Yatim anak Puti Nuriah, cucu Sutan Ali Rasyid yang telah lama meninggal.
           
           Diketahui asal usul Mr. Yatim yang juga berasal dari keluarga bangsawan tinggi maka datanglah Sutan Ali Akbar, Puti Rohana, Malim Batuah, Mak Inang, yang juga ditemani oleh Sutan Alam Sah beserta istrinya Sitti Mariama untuk meminang Puti Bidasari menjadi istri Mr. Yatim. Lamaran itu diterima dan bahkan langsung diputuskan hari pernikan mereka kala itu. Resmilah Mr. Yatim dan Puti Bidasari menikah yang diadakan di rumah bola Medan Perdamaian di mana tempat perayaan penyambutan Mr. Yatim setelah kembalinya dari Belanda dahulu. Setelah acara pernikahan itu surat kepindahan Mr. Yatim ke tanah Jawa pun dikabulkan, maka pindahlah Mr. Yatim ke tanah Jawa bersama istrinya Puti Bidasari.

Wednesday, December 11, 2013

Secarik Goresan Tinta Sisa Perjalanan Kala Itu 06 Oktober 2013


Pendakian menuju puncak Gunung Merapi adalah pendakian perdana yang kami lakukan bersama teman-teman sejawat kampus. Jika sebelumnya, kami hanya lewat di kaki dan menatap jauh Gunung Merapi. Maka kini, kaki ini berdiri tegak menatap Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek di atas gunung setinggi 2.700 meter ini. Bagi sebagian besar teman-teman lainnya yang melakukan perjalanan ini pun mengatakan bahwa pendakian ini adalah pendakian yang pertama kalinya…

            Lelah itu terbayar lunas ketika kaki ini menginjak puncak karena Tuhan menyuguhi dengan lukisan yang teramat sangat indah, kami bangga punya negeri ini, kami bangga terlahir menjadi putera negeri tercinta Indonesia…




Berdiri bersama di puncak merapi dan melihat kebesaran-Mu Tuhan
Seiring melihat sang surya tepat di ubun-ubun,
kami melihat lukisan Tuhan menajubkan, indah,
dan hati kecil pun berkata: “inilah alam Mu alam yang menawarkan kedamaian”
di atas awan puncak tertinggi Sumatera Barat, Gunung Merapi…

Hujan Berkabut

Di atas bukit kala hujan berkabut...
Keringat Bapak bercucuran bersama air hujan di badan...
Amat tabah!
Tanpa bicara sepatah pun!
di raut wajah yg mulai menua itu menyiratkan syarat!
"Inilah hidup Nak"
Namun ada senyum yang dulu biasa ku lihat setiap saat,
senyum yang slalu bisa ku miliki...
Di atas bukit kala hujan berkabut!
                                                                   Padang, 19 Nov 13

Tuesday, December 25, 2012

Dramatisasi/Teaterikal Puisi "Orang-orang Miskin" Karya W.S. Rendra

      Acara dramatisasi/teaterikal puisi "Orang-orang Miskin" karya W.S. Rendra ini diselerenggarakan dalam rangka ujian akhir Mata Kuliah Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia. Dosen pembimbing Mata Kuliah ini diampu oleh Bapak Sulaiman Juned. Pementasan dilakukan pada tanggal 16 Desember 2012 di Aula Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, dimulai pukul 09.00 WIB.
Ujian akhir ini diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat yang mengamil Mata Kuliah Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia. Dramatisasi/teaterikal puisi "Orang-orang Miskin" karya W.S. Rendra, merupakan tema pementasan yang diusung oleh lokal Sesi E '09 kelompok II (dua). Berikut sinopsis dari pementasan dramatisasi/teaterikal puisi "Orang-orang Miskin" karya W.S. Rendra:
Sinopsis:
Orang-orang miskin orang-orang yang selalu dianggap berdosa, orang-orang miskin berbaris di sepanjang sejarah. Miskin? Apa defenisi sesungguhnya tentang miskin? Orang yang dilempar ke jalan, orang yang tak mempunyai impian, atau orang yang hanya selalu dibutuhkan saat PEMILU?
Orang miskin orang yang diledek oleh impian, protes sosial seorang pengarang terhadap pemerintah tentang sisi kehidupan orang-orang miskin...
Orang-orang miskin juga bagian dari keseharian manusia, sesungguhnya orang-orang miskin juga tak bisa kau abaikan, tak bisa ditinggalkan...
Oh... Kenanglah ORANG-ORANG MISKIN JUGA BERASAL DARI KEMAH IBRAHIM....
Teaterikal ini di Sutradarai oleh Nurafni Elka dengan pimpinan produksi Megawati, berikut ini tim yang ikut serta dalam menyukseskan pementasan lokal Sesi E kelompok II (dua).

TIM PRODUKSI
Pimpinan produksi : Megawati
Konsumsi : Melisa
Dokumentasi : Decky
Pubklikasi : Yeli Yudersam
TIM ARTISTIK
Sutradara : Nurafni Elka
Aktor :
Citra Rulando
Muriani
Marsya Risona Yusuf
Yulia Sartika
Defa Juli Lestari
Harnela Dessi
Ihsan Hadi
Sri Sefni Rawita
Lenni Aflita
Penata Musik : Desri
Pemusik : Wike Yunetri
Penata Rias/Busana : Deni Susila Wati
Penata Setting : Desi Eriza

Kalau nyasar ke sini jangan lupa juga nonton video pementasannya!
Clik di sini http://youtu.be/__kD03mIflw



Sunday, October 21, 2012

Potret Suram Tertutup Kabut, Bangkitkan Raga Mati

                Hujan 13 Desember


        Seorang muda berjalan menepaki jejak kehidupan
        Mulai mengeja makna susah mencari rupiah
        Suara ayunan kepak mematahkan tulang belum hilang
        Suara gemuruh manusia mulai terdengar
        Perantauan negeri miskin batu
    Sela gemuruh tersiar kabar di indra
    DIA TELAH TIADA…
    Bumi serasa mengamuk
    Menggoncang badan tegak tak bertulang
        Kedikberdayaan dia bawa pergi
        Terkenang tiga pasang bola mata kecil berurai
        Laksana anak sungai mengalir tiada henti
        Kehilangan bidadari penuntun jalan melukis langit biru
            Terbayang seonggok tanah merah
            Lobang yang menganga
            Tempat peraduan matahari
            Yang tak ‘kan terbit lagi
                Pagi seakan tak lagi rindu matahari
                Embun pun enyah ntuk pergi
                Membasahi setiap kaki yang datang menghampiri
                Alunan irama yasin mengalun di bumi
                   Sekarang hanya tinggal tanah penuh bunga bertabur
                   Batu nisan yang tertancap
                   Di kejauhan terlihat tiga punggung anak manusia
                   Tak henti menatap dan berucap
    Disisa hujan 13 Desember…
                                        Ihsan Hadi
                                        September 2012



Monday, October 15, 2012

Telaah Naskah Drama Menggunakan Pendekatan Objektif



Analisis Objektif Naskah Drama Roh Karya Wisran Hadi

1.Pendahuluan
Drama merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dibahas. Istilah drama berasal dari Yunani, yaitu dramoi yang berarti ‘aksi’ atau ‘perbuatan’. Istilah drama itu sendiri sudah menyiratkan makna ‘peristiwa’, ‘karangan’, dan ‘risalah’.
Menurut Ferdinan Brunetiere dan Balthazar Verhagen (dalam Hasanuddin 1996:2) drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan prilaku. Sedangkan pengertian drama menurut Moulto adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak, drama adalah menyaksikan kehidupan manusia yang diekspresikan secara langsung.
Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi, 2006:104).
Hasanuddin (1996:7) menjelaskan pengertian drama merupakan suatu genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog-dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni pertunjukan. Karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarangnya untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapannya mengenai peristiwa sosial yang ada di masyarakat.
Drama pada awalnya digunakan dalam suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Akan tetapi, ritual tersebut mengalami perkembangan menjadi oratoria, yaitu seni berbicara, kemudian berkembang menjadi drama.
Salah satu jenis drama yang berkembang adalah drama realisme. Realisme adalah aliran atau ajaran yang selalu berpegang pada kenyataan, dan dalam kesenian, aliran ini berusaha mengungkapkan sesuatu sebagaimana kenyataan yang ada. Realisme digambarkan sebagai peniruan, bukan dari karya seni tradisi, melainkan peniruan dari aslinya yang disajikan oleh alam.
Drama realis pada umumnya merupakan usaha untuk menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana subjek itu tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa melebih-lebihkan. Drama realis ingin memberikan wawasan dalam kenyataan kehidupan, memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan keburukan-keburukan yang ada. Pada umumnya, apa yang dikemukakan oleh drama realis adalah suatu kebenaran umum atau wajar.
Roh  merupakan sebuah drama buah karya Wisran Hadi. Roh pernah mendapat juara harapan II dalam sayembara penulisan naskah drama DKJ tahun 2003. Drama ini merupakan drama yang mendokumentasikan peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat khususnya dalam masyarakat Minangkabau, drama ini sekaligus bisa menjadi alat penghibur dan pendidikan bagi pembacanya.
Dalam Tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan objektif sebagai pendekatan dalam menganalisis naskah drama Roh karya Wisran Hadi. Pendekatan objektif merupakan sebuah pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang bersifat otonom maksudnya tidak perlu dihubungkan dengan pengarang, pembaca, ataupun relitas objektif. Pendekatan ini mencoba untuk memaparkan suatu karya sastra secara struktural. Penulis akan mencoba menganalisis drama Roh sebagai suatu karya yang mempunyai otonomi penuh. Oleh karena itu, penulis tidak mengaitkan karya dengan lingkungannya, seperti pengarang dan pembacanya. Penulis hanya membahas sistem formalnya yang membangun keutuhan karya, yaitu alur, latar, tokoh dan penokohan, tema serta amanat yang terkandung di dalam naskah drama Roh tersebut.
Prinsip umum pendekatan objektif antara lain sebagai berikut:
•Penganalisisan hanya bertumpu pada teks drama semata dan lepas dari unsur-unsur luar yang mempunyai andil penciptaan sebelumnya.
•Karya fiksi dibangun oleh beberapa unsur, seperti gaya bahasa, sudut pandang, alur, penokohan, dan latar.
•Penganalisisan drama sebagai genre sastra adalah dengan membongkar unsur ke subunsur yang sekecil-kecilnya, untuk disusun kembali logika rasional.
•Keseluruhan dan kebutuhan drama dipreteli menjadi unsur-unsur tetapi tidak dibiarkan terpisah dan terlepas.
•Antar unsur makna bahasa dengan unsur penunjang struktur bahasa, tidak dapat dilihat sebagai unsur-unsur yang berdiri sendiri.
•Penginterpretasian dilakukan bertahap-tahap sesuai dengan hubungan unsur-unsur yang sederajat dan setingkat.

2.Sinopsis Naskah Drama Roh
Dalam drama Roh, tokoh yang muncul ada lima belas orang, dua orang manusia biasa, sedangkan yang sebelas tokoh lainnya adalah roh. Dua orang itu adalah Manda dan Ibu Suri.
Pada bagian pertama naskah ini diawali dengan pemunculan tokoh yang bernama Manda, Ibu Suri, Tokoh I, dan Tokoh II. Tokoh-tokoh inilah yang pertama kali membuka jalan cerita dari naskah Roh ini, yang ditandai dengan tampilnya Manda dan Ibu Suri di tengah pentas. Manda mulai membaca mantra, tubuhnya menggigil untuk memanggil roh para tokoh dan arwah nenek moyang.
Manda melakukan ritual itu karena memenuhi permintaan Ibu Suri yang ingin mencari atau mengetahui keberadaan anaknya yang bernama Suri, sebab tokoh dipanggil Ibu Suri karena dia sangat mencintai Suri anaknya yang entah dimana. Mandalah yang menjadi perantara untuk memanggil roh-roh yang akan membantu mencari Suri.
Roh yang pertama dipanggil Manda adalah Tokoh I, pada awal kemunculannya, dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu ternyata Tokoh I yang ada dalam naskah bernama Datuk Katumanggungan. Dia pun mulai melakukan pencariannya untuk menemukan di mana keberadaan Suri. Tokoh I meminta Ibu Suri bersumpah agar anaknya bisa ditemukan, tetapi Ibu Suri tidak mampu melaksanakan syarat yang diberikan Tokoh I tersebut. Tokoh I menghilang Manda memanggil roh yang lain, muncul Tokoh II dia pun memperkenalkan diri yang mengaku sebagai Datuk Perpatih Nan Sebatang. Begitulah seterusnya tokoh-tokoh yang muncul mereka selalu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Datuk Perpatih pun melakukan pencariannya. Namun, pencarian yang dilakukan hasilnya pun tidak ada, Suri tidak kunjung ditemukan.
Manda selalu membantu Ibu Suri memanggil roh-roh nenek moyangnya untuk menemukan Suri bahkan Ibu Suri mau membayar Manda berapa saja asalkan Suri anaknya ditemukan. Manda pun mulai memanggil roh yang lainnya, tokoh berikutnya muncul namun hasilnya juga tidak ada. Begitulah kerja tokoh-tokoh yang dipanggil Manda, pencariannya selalu tidak membuahkan hasil sama sekali  untuk Ibu Suri, tokoh-tokoh yang muncul selalu menyangsikan keberadaan Suri.
Kemarahan Ibu Suri pun mencapai puncak dan menganggap roh-roh yang dipanggil Manda adalah roh para bandit dan penipu karena menyangsikan Suri dan mengaburkan keberadaan Suri. Manda yang awalnya digelari Ibu Suri sebagai perantara dua dunia sudah tidak dia percayai lagi bahkan Manda digelari perantara dusta atau medium mesum dalam memanggil roh-roh nenek moyangnya. Akhirnya dengan kepercayaan yang tinggi Ibu Suri sendiri yang memanggil roh para tokoh untuk menemukan anaknya Suri. Usaha yang dilakukan Ibu Suri selalu dibayang-bayangi oleh Manda bahkan Manda selalu menasehati Ibu Suri bahwa orang yang berteman dengan setan syirik hukumnya dan neraka jahanam ancamannya. Ibu Suri tidak menghiraukan perkataan Manda, dia tetap melakukan ritual yang Manda lakukan untuk memanggi roh dan arwah nenek moyang.
Roh-roh yang dipanggil Manda dan Ibu Suri yang terdiri dari Tokoh I hingga tokoh XIII adalah roh nenek moyang dan orang terkenal sebagian besar dari tokoh-tokoh Minangkabau  yang entah kapan dan bagaimana meninggalnya berhasil dipanggil Manda dan Ibu Suri. Akan tetapi ada seorang tokoh yang selalu disebut-sebut dari awal hingga akhir yaitu Suri anak yang dicari-cari Ibu Suri keberadaannya kalau masih hidup di mana rimbanya dan jika sudah meninggal di mana kuburannya, pada akhirnya dia tidak pernah muncul.

3.Analisis Naskah Drama Roh
a.Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan menyatakan bahwa alur adalah roh drama (Sumardjo, 1994: 141).
Alur Roh adalah alur maju atau linear yaitu peristiwa yang dikisahkan dimulai pertama kali oleh Ibu Suri yang mencoba menggunakan jasa perantara yaitu Manda untuk menanyakan Suri kepada roh-roh yang dipanggil. Karena Suri belum diketahui dengan jelas, maka Ibu Suri terus memakasa Manda untuk memanggil roh, Ibu Suri merasa dibohongi akhirnya dia sendiri yang memanggil roh dan arwah nenek moyang yang dipanggil-panggil Manda pada awal cerita hingga mencapai tiga belas roh yang dipanggil. Ibu Suri selalu tidak puas dengan roh yang dipanggil, hingga akhirnya ia menggali sebuah makam yang ia yakini adalah kuburan Suri. Ternyata setelah digali, dan dibuka kain kafannya, itu adalah jenazah Manda. Di bagian akhir cerita juga diungkapkan Ibu Suri bahwa Suri yang ia cari-cari, yang diakuinya sebagai anak satu-satunya pelanjut keturunan dan yang akan mewarisi harta dan tanah pusaka pada awal cerita ternyata bukan siapa-siapa bagi bagi Ibu Suri.
MANDA
Nah, kan. Aku lagi yang disalahkan. Nyatanya menemukan aku. Perempuan begini selalu menginginkan aku terus jadi perantara. Padahal aku sudah dikubur. Tapi, dia tetap saja memungkiri. O, perempuan.
Para roh datang berputar-putar mengelilingi Ibu Suri. Manda ikut menghilang dalam putaran para roh itu. mereka terus berputar-putar dan suara mereka terdengar seperti suara telapak kaki kuda berlari.
Ibu Suri bangkit dan berputar-putar di tengah putaran para roh dengan selembar kain putih yang lebih besar. kain putih itu mengembang di udara, membawahi para roh yang bergulung-gulung. dengan kain hitam mereka.
perlahan diturunkannya kain putihnya, dan kini yang kelihatan hanya wajah Ibu Suri yang  letih memandang ke kejauhan.
IBU SURI
Suri. Ya, aku bukan Ibumu. Dan juga kau bukan anakku. Tak mungkin kau ku anakkan, kau pun tidak mungkin diperanakkan. Suri, bagiku kau hanya satu. Satu untuk segalanya. Satu untuk semuanya.
Perlahan membeku. Matanya redup. Ada sesungging senyum di bibirnya. Manis sekali.
b.Latar
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita (Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44). Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material (Hudson dalam Teeuw, 2003: 44). Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya.
Latar sosial dalam Roh yaitu lingkungan yang masih kental adat dan tradisi yaitu pengobatan tradisional yang memakai jasa perantara. Bahasa yang mereka gunakan kasar dan kurang sopan.
Guru agamaku tak mampu menerangkan di mana Suri. Penghulu adatku tak dapat menjelaskan kemana Suri. Mesin hitungku tak kunjung mengurai. Sansai kah Suri?. Manda, kemana lagi aku harus bertanya. Berita Koran tak lagi menyakinkan. Siaran televisi sulit diyakini. Iklan majalah susah dipercaya.
Latar fisik dalam drama Roh yaitu di sebuah perkampungan daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Penggambaran latar fisik dalam drama ini sangat jelas dan mendetail, seperti yang dicirikan dalam sebuah karya drama realis.
Latar tempat dalam naskah drama Roh ini tidak dideskripsikan dengan jelas yaitu penulis hanya menuliskan bahwa tampah-tampah yang berisi sesajian seperti buah-buahan, bunga, daun-daunan, kemenyan, dan lainnya yang diletakkan dipinggir dan sudut-sudut pentas.
c.Tokoh dan Penokohan
-Ibu Suri, Ibu Suri memiliki karakter keras kepala, egois, dan kasar terbukti dari dialog-dialognya yang sering memaksa Manda untuk memanggil roh walaupun Manda tidak mau, bahkan ketika permintaannya tidak dikabulkan oleh Manda, maka dia sendiri yang akan memanggil roh, dan roh yang tidak ia perlukan ia usir dengan kasar.
MANDA
Ibu Suri termasuk orang beriman, jangan berteman dengan setan. Syirik hukumnya., syirik.

IBU SURI
Syirik atau syarak. Dosa atau dasi, desa atau dasa, Manda peduli apa!? Suri pasti ada. Suri tidak boleh disangsikan! Ayo Manda, pergi! Aku akan meletakkan sesajian. Bagi roh dan arwah yang akan diundang.
-Manda, tokoh yang dapat menjadi perantara untuk memanggil roh-roh, dia bukanlah seorang tabib ataupun dukun. Manda memiliki karakter yang mistis dan suka membantu untuk memanggil roh-roh, walaupun begitu dia selalu mengingatkan Ibu Suri bahwa perbuatan syirik dengan memanggil roh adalah dosa.
MANDA
Ibu Suri, bertanya pada roh para tokoh atau pun arwah nenek moyang merupakan tipu muslihat setan memperdaya keimanan. Syirik hukumnya bila dikerjakan. Neraka jahanam ancamannya. Begitu kata guru agamamu.
IBU SURI
Guru agamaku tak mampu menerangkan di mana Suri. Penghulu adatku tak dapat menjelaskan kemana Suri. Mesin hitungku tak kunjung mengurai. Sansai kah Suri?. Manda, kemana lagi aku harus bertanya. Berita Koran tak lagi menyakinkan. Siaran televisi sulit diyakini. Iklan majalah susah dipercaya.
-Tokoh I, Datuk Ketumanggungan
TOKOH I (Menurunkan kain hitam penutup tubuhnya. Wajahnya putih sekali dan kaku. Ibu suri takut melihatnya, tapi ditahannya ketakutan itu sekuat tenaga)
Akulah datuk Ketumanggungan, putra satuk Sri Maharaja Diraja.
Di Pariangan Padang Panjang. Peletak dasar sistem adat Koto Piliang
Tiada rakyat tanpa raja, hidup berjenjang naik, bertangga turun
Dan, aku pun mati juga, walaupun menang dalam perang saudara.
Berkubur di bawah beringin songsang beribu tahun silam.
IBU SURI
Selamat datang Datuk Ketumanggungan
-Tokoh II, Datuk Perpatih Nan Sebatang
-Tokoh III, Sutan
-Tokoh IV, Raja Kaciak
-Tokoh V, Mengaku sebagai Suri
-Tokoh VI, Roh Wayang
-Tokoh VII, Mengaku sebagai Suri
-Tokoh VIII, Roh Kembar
-Tokoh IX, Roh Kembar
-Tokoh X, Roh Anjing
-Tokoh XI, Roh Asing
-Tokoh XII, Malin Kundang
-Tokoh XIII, Malin Deman
d.Tema dan Amanat
Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra itu (Sudjiman, 1991:50). Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra.
Tema yang diangkat adalah tentang sebuah adat pemanggilan roh dengan menggunakan jasa perantara.
Wisran Hadi menyebutkan bahwa pengobatan demikian masih berlangsung sampai sekarang. Tidak hanya pada masyarakat tradisional saja, tetapi juga pada masyarakat modern saat ini. Pada umumnya kegiatan pengobatan begini masih berlangsung di kampung-kampung dalam kawasan pesisir (rantau) timur Minangkabau, seperti daerah Kuantan. Cara pengobatan seperti itu disebut masyarakat di sana dengan nama tagak balian.
Dalam tahapan cerita berikutnya, dikembangkan pula bentuk sebuah acara tradisional yang lain, yaitu meminta berkah ke tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat. Upacara minta berkah ini juga masih berlangsung sampai sekarang, terutama dalam masyarakat tradisi yang berada di kawasan pesisir (rantau) timur Minangkabau, seperti di daerah Kuantan. Di Pariaman misalnya upacara minta berkah seperti ini disebut basapa.
Selain itu penceritaan Roh ini diselingi dengan randai dan indang, dua bentuk kesenian yang tradisi Minangkabau yang masih populer sampai sekarang. Berikut ini contoh dari randai dan indang:
“Suri. Jika rindu kampungmu tiba
Jangan pulang ke kampung asal
Yang kini jadi asal kampung
Dimamah lurah dirancah punah.
…………………………………”
Pesan yang ingi disampaikan pengarang kepada pembaca yaitu:
1.Lewat naskah dramanya ini, Wisran Hadi telah mendokumentasikan peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat, sekaligus sebagai alat penghibur dan pendidikan bagi pembacanya.
2.Di daam zaman yang modern dan canggih seperti sekarang ini, orang-orang masih mempercayai hal-hal yang mistis sebagai mana yang ada pasa masa dahulu kala. Seperti meminta sesuatu hal kepada roh-roh nenek moyang yang dianggap mempunyai kekuatan yang besar.
3.Meminta pertolongan kepada roh-roh nenek moyang merupakan hal yang sangat dibenci Allah SWT, karena merupakan perbuatan yang syirik. Orang yang melakukan hal yang demikian sama dengan menduakan Alla SWT perbuatan yang demikian sangat dilaknat Tuhan dan diancam akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam kelak. Serta meminta kepada roh dan arwah tidak pasti hasilnya antara ada dan tiada.

Referensi
Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya.
WS, Hasanuddin. 1996. DRAMA, Karya Dalam Dua Dimensi Kajian Teori, Sejarah, dan Analisis. Bandung: Angkasa.


Puisi Fenomenal dalam Dunia Sastra "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono Identitas Buku Judul: Hujan Bulan Juni Penulis:  Sapardi Djoko Damono ...