Monday, October 15, 2012

Psikolinguistik



TUGAS
PSIKOLINGUISTIK
Tentang
Makalah Penelitian
Gangguan Berbahasa Gagap Bicara







Oleh:
Kelompok 8
Andri Saputra (NPM 08090162)
Ihsan Hadi (NPM 09080174)
Nasrul Rajab (NPM 09080350)
Riyo Amriadi (NPM 09080192)











Yayasan Persatuan Guru Republik Indonesia Sumatera Barat
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Padang
2012


KATA PENGANTAR
          Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Gangguan Berbahasa  Gagap Bicara”.
         Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam pembuatan makalah ini. 
        Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat menyelesaikan dengan baik dan oleh karenanya, penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran, dan usulan guna penyempurnaan makalah ini.
           Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
                                                                                                                 

                                                                                                               Padang, 6 Juni 2012


                                                                                                                Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A.Latar Belakang 1
B.Rumusan Masalah 2
C.Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A.Arti Gagap Bicara 3
B.Macam-macam Gagap Bicara 4
C.Penyebab Gagap Bicara 5
D.Tanda-tanda Gagap Bicara 6
E.Makalah yang Berkaitan dengan Gagap Bicara
BAB III HASIL TEMUAN DAN ANALISIS 14
A.Identitas Anak 14
B.Riwayat Anak 15
C.Analisis 17
BAB IV PENUTUP 19
A.Kesimpulan 19
B.Saran 20
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Berbahasa merupakan proses mengomunikasikan bahasa tersebut. Proses berbahasa sendiri memerlukan pikiran dan perasaan yang dilakukan oleh otak manusia untuk menghasilkan kata-kata atau kalimat. Secara teoritis proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika dan enkode fonologi. Enkode semantik dan enkode gramatika berlangsung dalam otak, sedangkan enkode fonologi dimulai dari otak lalu diteruskan pelaksanaannya oleh alat-alat bicara yang melibatkan sistem syaraf otak bicara. Ketiga enkode tersebut berkaitan dalam kegiatan produksi bahasa seseorang, yang juga berkaitan erat dengan hubungan antara otak dan organ bicara seseorang.
       Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa, baik produktif maupun reseptif (menerima tanggapan dari orang lain). Jadi, kemampuan berbahasa terganggu.
         Gangguan-gangguan berbahasa tersebut sebenarnya akan sangat mempengaruhi proses berkomunikasi dan berbahasa. Banyak faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan adanya gangguan berbahasa, kemudian faktor-faktor tersebut akan menimbulkan gangguan berbahasa. Maka dari itu, dalam makalah ini akan dijabarkan gangguan berbahasa yang dialami manusia khususnya anak yaitu salah satunya berbicara gagap berserta faktor-faktor yang menyebabkannya.
B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan maka penulis mengambil permasalahan dan merumuskannya dalam pertanyaan yakni, apa faktor yang menyebabkan anak berbicara gagap?
C.Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui faktor yang menyebabkan anak berbicara gagap.


BAB II
PEMBAHASAN
GANGGUAN BERBAHASA GAGAP BICARA
A.Arti Gagap Bicara
Tertahan-tahan, tertegun-tegun tidak lancar ketika berbicara (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Gagap adalah gangguan bicara dimana suara, suku kata, atau kata-kata diucapkan berulang atau berkepanjangan sehingga mengganggu aliran normal berbicara. Sekitar 100% orang dewasa gagap, dimana 80% laki-laki dan 20% perempuan.
      Dari hasil berbagai penelitian yang melibatkan sampel dalam jumlah besar, fenomena bicara gagap ini lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 4:1. Hal tersebut juga sering bersifat "datang dan pergi", artinya dua minggu hilang, kemudian muncul lagi. Apabila itu adalah ketidaklancaran normal (normal disfluency) yang berarti bahwa meskipun kelancaran itu adalah penyimpangan tetapi penyimpangan itu adalah hal yang normal pada anak-anak. Bahkan kita orang dewasa juga masih melakukan pengulangan dalam kondisi tertentu, asumsi utamanya adalah anak sedang berusaha menggunakan bentuk-bentuk baru dari bahasa yang dikuasainya yang memerlukan kemahiran mengeluarkan bunyi atau makna yang baru.
        Bentuk pengulangan tersebut dapat berupa bunyi (m-m-m-mama), suku kata (ma-ma-ma-mama), kata (mama-mama-mama mau mana?), frasa (mama mau-mama mau-mama mau mana?), bunyi memanjang (mmmmmm....mama), kesulitan start (...................mama), dan pause yang sering dan tidak menentu.
      Gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat dapat diselesaikan (Abdul Chaer, 2003: 153).
        Gagap adalah gangguan bicara atau kesalahan dalam ucapan dengan cara mengulang-ulang bunyi, suku kata atau kata, atau pengulangan konsonan dan suku kata secara spasmodic (terjadi pengejaan).
Dapat disimpulan bahwa, gagap berbicara merupakan gangguan bicara dan bahasa dimana aliran bicara normal (lancar) merupakan pengulangan sering terganggu oleh suara atau suku kata, perpanjangan kata-kata atau frasa dan penyumbatan aliran udara.
B.Macam-macam Gagap Bicara
1.Stammering adalah kesulitan berbicara.
2.Suttering adalah kesulitan mengeluarkan kata-kata tertentu.
Pengelompokan gagap suttering berdasarkan fasenya:
a.Gagap perkembangan
Ketidaksingkronan emosi anak yang mengebu-gebu dan pengaturan alat bicara biasanya terjadi pada anak usia 2-4 tahun.
Kondisi  gagap  pada  periode usia  2-4  tahun merupakan  keadaan  yang  masih  wajar  terjadi  sebagai bagian  dari  proses perkembangan bicara anak. Gagap biasanya muncul karena kontrol emosinya yang  masih  rendah  dan  antusiasme  anak  untuk  mengemukakan  ide-idenya belum  dibarengi  dengan  kematangan  alat  bicaranya.  Sementara  pada  anak remaja  biasanya  disebabkan  karena  rasa  kurang  percaya  diri  dan  kecemasan akibat perubahan fisik, mental dan sosial yang sedang dialaminya.
b.Gagap sementara
Gagap yang disebabkan faktor psikologis biasanya terjadi pada anak usia 5-8 tahun. Umumnya  disebabkan  oleh  faktor  psikologis, misalnya  anak  mulai  memasuki  lingkungan  baru  yang  lebih  luas,  seperti lingkungan  sekolah  dan  pergaulan, sehingga  anak  memerlukan  waktu  untuk menyesuaikan diri baik secara mental maupun sosial.
c.Gagap menetap
Gagap yang tidak ada upaya atau ikhtiar disembuhkan seumur hidup. Biasanya  lebih  banyak disebabkan  oleh  faktor  kelainan  fisiologis  alat  bicara  dan  akan  terus berlangsung, kecuali dibantu dengan terapi wicara (speech therapy).
C.Penyebab Gagap Bicara
Hal-hal yang dianggap mempunyai peranan dalam menyebabkan terjadinya kegagapan itu.
a.Faktor-faktor “stress” dalam kehidupan berkeluarga.
b.Pendidikan anak yang dilakukan secara diktator, dengan membentak-bentak, serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c. Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d.Faktor neurotik famial (Abdul Chaer, 2003: 153-154).
Kegagapan adalah disfasia yang ringan (Sidharta dalam Abdul Chaer, 2003: 154). Selanjutnya, kegagapan ini lebih sering berjadi pada kaum laki-laki daripada kaum perempuan, dan lebih banyak pada golongan remaja daripada golongan dewasa (Chauchard dalam Abdul Chaer, 2003: 154).
Gagap bicara disebabkan banyak faktor antara lain faktor biologis, sosiologis, dan  psikologis. Selanjutnya akan dibahas satu persatu sesuai dengan literatur yang ada.
a.Faktor Biologis
-Kelahiran Prematur atau riwayat kelahiran bayi yang lahir prematur biasanya mengalami kerusakan mental. Sering pertumbuhan jiwa dan jasmaninya tertunda atau mengalami kelambatan.
-Genetik terjadi ketika ada garis keturunan yang membawa presdiposisi rentan terhadap serangan gagap bicara. Gangguan saraf atau neorologis terdapat gangguan pada kordinasi dari fungsi motorik untuk berbicara.
b.Faktor Sosiologis
-Lingkungan keluarga yang disebabkan tekanan psikologis dari keluarga.
-Lingkungan masyarakat yang terasa asing sehingga membuatnya tertekan.
c.Faktor Psikologi umumnya karena ketidakmatangan emosi seseorang atau kelambanan perkembangan emosi seseorang.
D.Tanda-tanda Gagap Bicara
Sebenarnya gagap tidaknya seorang anak sudah bisa dideteksi sejak fase true speech (bicara benar) di usia 18 bulan. Kegagapan ini akan tampak jelas di usia 4-5 tahun  karena  pada usia ini seharusnya perkembangan bahasa anak sudah baik, pemahamannya  sudah  bagus,  pembentukan  kalimat,  bahasa  ekspresif,  dan kelancaran  bicaranya  juga  sudah  bagus,  serta  sosialisasi  anak  pun  sudah  lebih luas.
       Kondisi  gagap  pada  anak  bervariasi  dari  yang  ringan  sampai  berat.  Pada gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata dengan huruf awal b, d, s, dan t. Huruf b, d, s, t adalah huruf yang membutuhkan tenaga pada saat mengucapkannya dan justru kata-kata yang diawali dengan huruf itulah yang sering mengalami gangguan pengucapan pada penderita gagap.
       Penderita  gagap  umumnya  juga  sering  diikuti  oleh  gerakan  berulang  pada bagian tubuh yang tak bisa dia kendalikan. Namanya tics, yang terjadi pada wajah atau  gerak-gerak  kecil  pada  bagian  punggung  yang  berulang  dan  tak  terkendali. Gerakan  ini  merupakan  representasi  perjuangan  dari dalam  dirinya  yang  berat untuk dapat berbicara lancar. Napasnya pun relatif lebih cepat. Serangan gagap ini dapat terjadi setiap saat dan pada situasi-situasi tertentu seperti harus berbicara di hadapan orang-orang yang dianggapnya memiliki kelebihan daripada dirinya.
      Sementara  pada  gagap  yang  ringan,  anak  dalam  keadaan  tertentu  dapat bicara  normal   dan  lancar  saat  sedang  sendiri,  berbisik,  menyanyi,  dan  diantara orang-orang  yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya dibanding dirinya. Serangan  gagap  bisa  dialami  bila  ia  merasa  malu,  rendah  diri  atau  terlampau menyadari kondisi dirinya.
      Secara  umum  tanda-tanda  kegagapan  yang  harus  diwaspadai  oleh  orang tua maupun  guru  menurut  Dr.  Ehud  Yairi,  Ph.D.  dari  Department  of  Speech  and Hearing Science, Universitas Illinois, Amerika Serikat adalah sebagai berikut :
-Mengulang-ulang bunyi lebih dari dua kali, seperti i-i-i-ini.
-Anak tampak tegang dan berjuang untuk bicara (tampak dari otot-otot wajah, terutama di sekitar mulut).
-Nada suara mungkin naik seiring pengulangan
-Kadang suara anak seperti tercekat, udara atau suara tertahan selama beberapa detik.
-Jika anak  mengalami  kegagapan  dalam  10%  lebih pembicaraannya,  maka kegagapannya dianggap cukup parah.
E.Makalah yang Berkaitan dengan Gagap Bicara
Penelitian terdahulu tentang gangguan gagap bicara ini diuraikan oleh Adek Thia di dalam blognya melalui situs internet http://pengeliminirgagapbicara.blogspot.com.html, makalah tersebut berjudul “Pengeliminir Gagap Bicara”.
     Pemicu munculnya gagap bicara, kesulitan  penderita gagap bervariasi dari satu situasi ke situasi lain.  Misal penderita gagap dapat berbicara normal atau lancar bila ia sedang sendiri, berbisik atau menyanyi, serta bila si penderita berada dalam lingkungan yang lebih muda daripada dirinya dan di antara orang-orang yang ia pikir lebih rendah posisinya.
      Serangan gagap akan terjadi apabila ia harus berbicara di hadapan orang-orang yang ia pikir memiliki kelebihan darinya. Frekuensi serangan gagap akan menjadi sering ketika ia merasa malu, rendah diri, atau terlampau menyadari kondisi dirinya.
Dari hasil studi literatur ada beberapa cara mengeliminir gagap bicara, yaitu terbagi menajadi dua secara garis besar:
-Medis atau eksternal
-Psikologis atau internal
a.Pengeliminir Gagap secara Medis
      Dewasa ini kecanggihan teknologi di bidang kesehatan sangat maju. Dengan berbagai jenis terapi yang ada penyakit bisa disembuhkan dan aman untuk digunakan. Misalnya: terapi holistic, hypnoterapi, NLP (Neuro Linguistic Programming), dan lainnya.
1.Terapi holistic
Terapi holistic yang  terdiri dari gabungan hypnoterapi, psikoterapi, NLP Therapy, teknik-teknik penngembangan diri dari NLP, pijat syaraf (Voice Nerve Massage) serta teknik Instant Public Speaking.
Para ahli therapis mampu menyembuhkan gagap ini dengan satu kali terapi holistic, kemajuan kesembuhan sangat cepat.
2.Hypnoterapi
Hypnoterapi cukup akrab ditelinga kita. Hypnotherapy adalah terapi yang dilakukan pada subyek dalam hypnosis. Kata “hypnosis” kependekan dari istilah James Braid’s (1843) “neurohynotism”, yang berarti “tidurnya sistem saraf”. Orang yang terhipnotis menunjukan karakteristik tertentu yang berbeda dengan yang tidak, yang paling jelas adalah mudah disugesti. Hypnotherapy sering digunakan untuk memodifikasi perilaku subyek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubung stress, manajemen rasa sakit, dan perkembangan pribadi. (Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).
Cara  atau teknis hypnotherapy penderita gagap bicara yakni melewati beberapa proses. Pertama dilakukan intake interview yang harus hati-hati dan sangat empati agar tidak menambah stress pasien.
Kemudian harus cukup dengan holistic yakni selain self labeling (belief system) yang diubah, trauma healing juga diajarkan instant relaxation dimanapun  berada.
Gagap yang parah, mutlak harus ditambah dengan facial massage (hasil penelitian pribadi saya) secara bertahap dan diberi pekerjaan rumah dalam hal “berbicara” sampai level tertentu. Karena hardwere saraf-saraf di wajah menjalankan fungsi berbicara, biasanya sangat kaku, sehingga “perintah” berbicara dari otaknya tidak dapat dengan sempurna  dilaksanakan  oleh organ-organ alat bicara.
3.NLP (Neuro Linguistic Programming)
Membangun kembali citra diri atau sugesti dengan bahasa yang mudah diterima oleh otak dan tersimpan dengan baik sehingga mampu menjadi kordinator seluruh sistem organ. Sehingga semua komponen tubuh beserta saraf saling bekerja sama untuk mendapat hasil yang positif (Sandy Mac Greorge. Piece of Mind).
NLP sendiri sulit untuk didefinisiksn bahkan  para pakar dan pendiri NLP masih memberikan definisi berlainan agar para peserta mudah memahami manfaat dan tujuan yang akan didapat.
NLP adalah strategi pembelajaran  yang ditingkatkan untuk deteksi dan utilisasi pola-pola didalam dunia (John Grinder).
NLP adalah apa saja yang bisa berfungsi dan memberi hasil (Robert Dilts)
NLP adalah studi sistematik tentang  komunikasi manusia (Alex von Uhde).
Adapun istilah actual “Neuro linguistic Programming” muncul dari tiga bidang studi utama:
-Neurology ialah tentang otak dan bagaimana kita berfikir
-Linguistic ialah tentang bagaimana kita menggunakan bahasa dan bagaimana dampaknya terhadap kita.
-Programming ialah tentang bagaimana kita mengurutkan tindakan-tindakan.
Richard Bandler dengan singkat menggambarkan NLP sebagai membantu orang belajar bagaimana menggunakan otaknya lebih efektif memacu otak mereka daripada sekedar otak yang memacu mereka.
Bandler dan Ginder pada mulanya berusaha menemukan apa  sebenarnya fungsi untuk mencapai hasil positif untuk klien terapi, dengan cara menguji keterkaitan antara perilaku aktual siterapis dengan pemikiran perasaan si klien (Phillip dan Jenny).

b.Pengeliminir Gagap Bicara Secara Psikologis
Penyembuhan atau pengelimiinir gagap bicara dapat secara psikolog mengingat salah satu penyebab dari faktor psikologis.
1.Motivasi dari orang-orang terdekat
-Tenang dan acuhkan saja dan berbicara sabar dengan sang penderita dengan memberikan contoh berbicara dengan pelan dan tenang.
-Berikan contoh latihan mengatur nafas dan kontrol emosi.dengan cara ini anak akan meniru contoh orang tua. Ajak sang anak untuk sama-sama membaca buku cerita yang disukai pelan-pelan dengan sentuhan-sentuhan kecil dibahu  dan tangan agar nyaman.
-Berikan pujian jangan dimarahi. Pujian adalah motivasi secara tidak langsung yang membuat sang anak lebih bersemangat untuk berbicara.
2.Latihan wicara
-Latihan bicara keras, kalau malu lakukan dikamar tertutup rapat.
-Latihan pidato sendiri.
-Kalau perlu berbicara sendirian dengan benda mati.
3.Adanya fasilitas
-Dipaksa untuk berbicara kepada orang banyak.
-Berbicara kepada khalayak ramai (pidato, ceramah, dan menjadi penyiar).
-Diberi motivasi agar mau berbicara.
4.Lebih menggali potensi
Manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk sehingga apa yang  Allah SWT titipkan dipergunakan dengan maksimal dan amanah yakni digunakan sebagai fasilitas rukuk dan sujud kita pada Allah. At-tin: 4.
Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun orang sholeh dan amanah bukan menjadi minder justru akan menutupi dengan kelebihannya.  Serta terus menggali potensi yang tersembunyi.
Adanya semangat untuk bersaing dan tidak takut untuk mencoba.



BAB III
HASIL TEMUAN DAN ANALISIS
A.Identitas Anak
a.Data Anak
Nama : Rahmi Yulita
Jenis kelamin : Perempuan 
TTL : Sijunjung, 26 Juli 2003
Anak ke : 1
Agama : Islam
Nama Sekolah : SD Negeri 13 Sijunjung
Alamat : Kenagarisn Sungai Batuang, Kab. Sijunjung 
b.Data Orangtua
Nama Ayah : Yanto
TTL : Sijunjung, 2 Februari 1978
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Alamat : Sijunjung
Nama Ibu : Helmi Yulita
TTL : Sijunjung, 8 Juli 1987
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kenagarian Sungai Batuang, Kab. Sijunjung 
Kakek : Si Am
TTL : Sijunjung, 10 April 1950
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani
Alamat : Kenagarian Sungai Batuang, Kab. Sijunjung
B.Riwayat Anak
a.Riwayat kelahiran
Kehamilan 
Mengalami keguguran sebelumnya? :Tidak
Merasa bingung/sedih/kesal karena : Tidak
Anak tergolong yang diinginkan? :Ya
Kelahiran
Umur kandungan : Cukup
Saat kelahiran : biasa dengan cara : Normal
Tempat  kelahiran : di rumah sendiri
Ditolong oleh : Bidan
Berat badan bayi : 3,6 kg 
b.Riwayat makanan
Menetek ibu hinggga umur : 2 tahun
Minum susu kaleng dari umur : 8 bulan
Kualitas makanan : baik
Kuantitas makanan : cukup
c.Riwayat perkembangan fisik
Telukup : 3 bulan, duduk : 6 bulan, berdiri : 9 bulan
Berjalan : 13 bulan
Berbicara kata-kata pertama : 3 tahun
Berbicara dengan kalimat lengkap : 4 tahun
Kesulitan dalam berbahasa : 6 tahun
d.Faktor sosial dan personal
Hubungan dengan saudara (kandung) : baik
Hubungan dengan teman : kurang
Hobi : nonton
Minat : bernyanyi
Sikap orangtua terhadap anak : baik
Penerimaan dan tanggung jawab : cukup
Sikap terhadap masalah belajar : cukup
e.Riwayat pendidikan
Masuk TK umur : 5 tahun
Bantuan yang pernah terima anak : belum pernah
Sikap anak terhadap guru : baik
Sikap anak terhadap sekolah : baik

C.Analisis
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan di lapangan tepatnya di Nagari Sungai Batuang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung. Menjadi subjek penelitian yaitu seorang anak perempuan yang bernama Rahmi Yulita. Dari  observasi  yang  dilakukan,  kasus  ini  memang  mempunyai  masalah kegagapan.  Ia sering mengulang-ulang kata  dan kesulitan  mengucapkan huruf-huruf tertentu ketika berbicara. Dia mengalami salah satu gangguan berbicara yaitu gagap bicara.
Dia menderita gagap bicara semanjak masuk sekolah dasar saat berumur 6 tahun, dari data riwayat si penderita gagap tersebut di atas mulai dari proses kehamilan sampai masuk jejang pendidikan sekolah dasar si penderita termasuk ke dalam kategori anak yang normal karena sejak proses kehamilan sampai ibunya melahirkan dalam keadaan normal.
         Rahmi Yulita menurut keterangan ibunya dia mengalami gangguan berbahasa sejak berumur 6 tahun tepatnya saat duduk di bangku kelas satu sekolah dasar dan belum pernah mendapatkan bantuan baik medis maupun psikologis dari gangguan berbahasa gagap bicara yang dideritanya. Ada dua jenis gagap berbicara yaitu stammering adalah kesulitan berbicara dan suttering adalah kesulitan mengeluarkan kata-kata tertentu.          Rahmi Yulita termasuk kepada orang yang mengalami gagap berbicara suttering adalah kesulitan mengeluarkan kata-kata tertentu, karena dari observasi yang dilakukan dia sangat susah mengucapkan kata-kata yang berawalan huruf A misalnya ketika mengucapkan kata mama (a-a-a-ama) dan K misalnya ketika mengucapkan kata kemari (k-k-k-kemari).
           Gagap suttering ini atau jenis gagap kesulitan mengeluarkan kata-kata tertentu juga mempunyai tiga fase yaitu gagap perkembangan, gagap sementara, dan gagap menetap, dari fase-fase tersebut  si penderita termasuk kepada kelompok fase gagap sementara atau gagap ringan sebab si penderita mulai mengalami gagap bicara saat berumur 6 tahun, ketika dia memasuki lingkungan baru yang lebih luas yaitu saat memasuki lingkungan sekolah serta pergaulan yang baru.
            Di pandang dari faktor penyebab gagap bicara yaitu pada faktor fisiologis yang berkaitan dengan masalah genetik, orang tua dari subjek observasi yang dilakukan memberikan keterangan bahwa ayah kandung dari si penderita juga mengalami gagap bicara yang juga dideritanya sejak kecil dan itu berlangsung sampai sekarang. Serta orang tua laki-laki dari si ayah (kakek dari Rahmi Yulita) juga mengalami gangguan berbahasa gagap bicara dan ini juga dideritanya sejak kecil juga masih gagap bicara sampai saat sekarang ini.
           Faktor penyebab penderita gagap bicara dari observasi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa, Rahmi Yulita menderita gagap bicara yang tergolong kepada faktor fisiologis yaitu berkaitan dengan masalah genetik atau gangguan organis. Sebab ayah dan kakek dari si penderita sudah lebih dahulu mengalami gangguan berbahasa yaitu gagap bicara. Jadi, gagap bicara yang diderita Rahmi Yulita merupakan turunan dari ayah dan kakeknya.



BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
Gagap  merupakan  suatu  gangguan  bicara  dimana  aliran  bicara  terganggu tanpa  disadari  dengan  adanya  pengulangan  dan  pemanjangan  suara,  suku  kata, kata  atau  frasa,  serta  jeda  atau  hambatan  tak  disadari  yang  mengakibatkan gagalnya  produksi  suara.  Kalau  dalam  komunikasi,  gagap  merupakan  salah  satu gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan ujaran.
        Kondisi  gagap  pada  anak  bervariasi  dari  yang  ringan  sampai  berat.  Pada gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata dengan huruf  awal  b,  d,  s,  dan  t,  juga  sering  kali  diikuti  oleh  gerakan  berulang  pada bagian  tubuh  yang  tak  bisa  dia  kendalikan  yang  terjadi  pada  wajah  atau  gerak-gerak  kecil  pada  bagian  punggung  yang  berulang  dan tak  terkendali.  Napasnya pun  relatif  lebih  cepat.  Serangan  gagap  ini  dapat  terjadi  setiap  saat  dan  pada situasi-siatuasi  tertentu  seperti  harus  berbicara  di  hadapan  orang-orang  yang dianggapnya memiliki kelebihan daripada dirinya.
        Sementara  pada  gagap  yang  ringan,  anak  dalam  keadaan  tertentu  dapat bicara  normal   dan  lancar  saat  sedang  sendiri,  berbisik,  menyanyi,  dan  diantara orang-orang  yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya dibanding dirinya. Serangan  gagap  bisa  dialami  bila  ia  merasa  malu,  rendah  diri  atau  terlampau menyadari kondisi dirinya.
         Gagap  tidak  akan  berlanjut  sampai  dewasa  bila  anak  diterapi  dengan  baik dan  segera.  Selain  itu  juga  dibutuhkan  dukungan  dari  lingkungan  keluarga  dan sekitarnya.  Untuk  masalah  kecemasannya  bisa  dikonsultasikan  ke  psikolog, masalah  bicaranya  ke  terapis  wicara,  dan  masalah performance/kinerjanya  keterapis okupasi.
B.Saran
Berikut  beberapa  hal  yang  bisa  dilakukan  baik  oleh orang tua  ataupun  guru dalam menghadapi anak yang gagap:
-Menjadi  contoh  penutur  yang  baik  yaitu  dengan  berbicara  jelas,  perlahan, tidak memburu-buru diri sendiri.
-Tidak  memberi  label/cap  apapun  tentang  cara  bicara anak  (seperti  "gagap", "tidak lancar").
-Tidak  memberi  perhatian  khusus  terhadap  pengulangan-pengulangan  yang dilakukan anak.
-Tidak  mengatakan  "Pelan-pelan  bicaranya,  Sayang"  atau  "Tenang,  Nak... Tenang" pada anak.
-Beri anak kesempatan seluas-luasnya untuk bicara tanpa interupsi.
-Tidak membantu mengucapkan kata-kata untuk anak ketika ia sedang bicara, juga melarang orang lain melakukan hal itu untuk anak.
-Mencegah  orang  lain  (terutama  saudaranya)  mengejek atau  meniru-niru  cara bicara anak.
-Sering-sering  menyediakan  waktu  khusus  untuk  mengobrol,  membacakan buku, atau bermain dengan anak.



DAFTAR PUSTAKA
Adek Thia. 30 September 2011. Artikel: Pengeliminir Gagap Bicara, (Online),        (http://pengeliminirgagapbicara.blogspot.com/2011/09/pengeliminir-gagap-bicara.html, diakses 14 Juni 2012).
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.
http://id.wikipedia.org/wiki/Gagap
Jatmiko. 19 Oktober 2010. Artikel: Gangguan Berbahasa, (Online), (http://micocaem89.blogspot.com/2010/10/makalah-psikolinguistik.html, diakses 6 Juni 2012).
Joko Kusmanto. 30 September 2003. Artikel: (Balita Anda) Permasalahan Gagap, (Online), (http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg15866.html, diakses 17 Juni 2012).
Ruth Novasari. 24 September 2009. Artikel: Gagap pada Anak (Penyebab dan Terapinya), (Online), (http://16happyday.blogspot.com/2009/09/gagap-pada-anak-penyebab-dan-terapinya.html, diakses 6 Juni 2012).
www.hipno-bicara.blogspot.com
-

Saturday, October 29, 2011

Sejarah Perkembangan Ilmu Retorika

Sejarah Perkembangan Retorika
Uraian sistematis yang pertama diletakkan oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di pulau Sicilia. Di mana bersistem pemerintahan diktator dan pada saat itu diktator ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah rakyat kepada pemiliknya yang sah. Untuk mengambil haknya itu pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri di pengadilan, waktu itu tidak ada pengacara dan sertifikat tanah. Sering orang tidak berhasil karena ia tidak pandai bicara.
Untuk membantu orang untuk mengambil haknya di pengadilan tersebut Corax menulis makalah retorika dengan teknik kemungkinan dan dia juga meletakkan dasar-dasar organisasi pesan. Ia membagi pidato pada lima bagian: pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan. Dari sini para ahli retorika kelak mengembangkan organisasi pidato.
Walaupun demokrasi gaya Syracuse tidak betahan lama namun ajaran Corax tetap berpengaruh bahkan sampai pada zamannya Aristoteles dan ahli retorika klasik, kita memperoleh lima tahap penyusunan pidato: terkenal sebagai Lima Hukum Retorika (The Five Canons of Rhetoric).
Inventio (penemuan). Pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi yang paling tepat, dalam taap ini pembicara merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak. Aristoteles menyebutkan tiga cara untuk mempengaruhi manusia. Pertama, harus sanggup menunjukkan kepada khlayak bahwa kita memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Kedua, harus menyentuh hati khalayak: perasaan, emosi, harapan, kebencian, dan kasih sayang mereka (pathos). Ketiga, meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini kita mendekati khalayak lewat otaknya.
Dispositio (penyusunan), pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan, pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan berikut ini mengikuti kebiasaan berpikir manusia: pengantar, pertanyaan, argumen, dan epilog. Menurut Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas (ethos), dan menjelaskan tujuan.
Elucutio (gaya), pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk “mengemas” pesannya. Menggunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima; pilih kata-kata yang jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup; dan sesuaikan bahasa dengan pesan, khalayak, dan pembicara.
Memoria (gaya), pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya, dan mengatur bahan-bahan pembicaraan. Di antara semua peninggalan retorika klasik, memori adalah yang paling kurang mendapat perhatian para ahli retorika modern.
Pronuntiatio (penyampaian), pembicara menyampaikan pesannya secara lisan. Di sini, akting sangat berperan pembicara harus memperhatikan olah suara (vocis) dan gerakan-gerakan anggota badan (gestus moderatio cum venustate).
1.        Retorika Zaman Romawi
Retorika pada zaman Romawi, tidak terlepas dari teori retorika Aristoteles yang sistematis dan komprehensif, retorika telah memperoleh dasar teoritis yang kokoh. Retorika pada zaman Romawi merupakan warisan retorika gaya Yunani, orang-orang Romawi hanya mengambil segi praktisnya saja. Walaupun begitu, kekaisaran Romawi bukan hanya subur dengan sekolah-sekolah retorika tetapi juga kaya dengan orator-orator ulung seperti Antonius, Crassus, Rufus, dan Hortensius.
2.        Retorika Abad Pertengahan
Abad pertengahan sering disebut abad kegelapan bagi retorika, karena ketika agama kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Orang kristen tersebut melarang mempelajari ilmu retorika yang dirumuskan oleh orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Bila ia memeluk agama kristen secara otomatis ia akan memiliki kemampuan untuk menyampaikan kebenaran.
Satu abad kemudian di Timur muncul peradaban baru yaitu seorang nabi ia seorang pembicara yang fasih dengan kata-kata singkat yang mengandung makna padat yaitu Nabi Muhammad saw, perkataannya menyebabkan pendengarnya berguncang hatinya dan berlinang air matanya. Ada seorang ulama yang mengumpulkan khusus pidatonya dan menamainya dengan Madinat al-Balaghah. Balaghah menjadi disiplin ilmu yang menduduki status yang mulia dalam peradaban Islam. Kaum muslimin menggunakan balaghah sebagai pengganti retorika. Tetapi retorika Yunani yang dicampakkan di Eropa Abad Pertengahan, dikaji dengan tekun oleh para ahli balaghah, sayangnya sangat kurang sekali studi berkanaan dengan kontribusi balaghah pada retorika modern. Balaghah, beserta ma’ani dan bayan, masih tersembunyi di pesantren-pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional.
3.        Retorika Modern
Retorika modern pertama kali yang mengantarkan adalah Renaissance, menghubungkan Renaissance dengan retorika modern adalah Roger Bacon. Retorika pada zaman ini mempunyai beberapa aliran yang dimana aliran-aliran itu sebagai berikut:
Ø  Aliran epistemologis, aliran ini lebih menekankan pada proses psikologis. Epistemologi membahas “teori pengetahuan”; asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan manusia. Para pemikir epistemologi berusaha mengkaji retorika klasik dalam sorotan perkembangan psikologi kognitif (yang membahas proses mental). Para pemikir aliran ini antara lain:
·           George Campbell (1719-1796), menurutnya retorika harus diarahkan kepada upaya “mencerahkan pemahaman, menyenangkan imajinasi, menngerakkan perasaan, dan mempengaruhi kemauan”.
·           Richard Whately, menurutnya retorika berorientasi kepada khalayak (audience-centered).
Ø  Aliran belles lettres (retorika belletris), aliran ini mengutamakan keindahan bahasa , segi-segi estetis pesan, kadang-kadang dengan mengabaikan segi informatifnya. Jadi, kedua aliran di atas terutama memusatkan perhatian mereka pada persiapan pidato-pada penyusunan pesan dan penggunaan bahasa.
Ø  Aliran elokusionis, aliran ini justru menekankan teknik penyampaian pidato. Aliran ini mendapat kritikan karena perhatian- dan kesetiaan- yang berlebihan pada teknik.
Pada abad kedua puluh, retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan modern khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah retorika pun mulai digeser oleh speech, speech communication, atau oral communication, atau public speaking.

Unsur-unsur Bunyi dalam Sajak


Laporan Bacaan
Mata Kuliah Telaah Puisi Indonesia

Judul Buku                            : MEMBACA DAN MENILAI SAJAK:
                                                 Pengantar Pengkajian dan Interpretasi
Pengarang                             : Hasanuddin WS
Tahun Terbit                         : 2002
Penerbit                                 : Angkasa
Kota Terbit                            : Bandung
Jumlah Halaman Buku        : xviii + 157 halaman
Bagian yang merupakan bab kedua dari buku ini, yang membahas tentang bunyi dalam sajak. Bahasa dalam sajak pada hakikatnya adalah bunyi, bunyi dirangkai dengan menggunakan pola tertentu. Sajak yang dibacakan maka pertama-tama yang ditangkap oleh telinga sesungguhnya adalah rangkaian bunyi, bunyi itu dirangkai dengan mengikuti konvensi bahasa maka bunyi itu sekaligus mengandung makna.
Bunyi di dalam sajak meliputi hal-hal sebagai berikut:
Irama, Metrum, Kakafoni, Efoni, Onomatope, Asonansi, Aliterasi, Anafora. Dari penguraian di atas akan diuraikan satu persatu.
1.      Irama
Masalah irama pada hakikatnya membicarakan musik, masalahnya irama erat hubungannya dengan bunyi, dan irama tidak identik denga bunyi itu sendiri. Irama bukan sekedar bunyi belaka, tetapi lebih dari itu. Irama merupakan bunyi yang teratur, terpola, menimbulkan variasi bunyi, sehingga dapat menghasilkan suasana.
Beberapa pendapat mengatakan bahwa irama terbagi atas dua bagian, ritme dan metrum. metrum adalah irama yang tetap, terpola menurut pola tertentu, sedangkan ritme adalah irama yang di sebabkan pertentangan-pertentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur tapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap dan hanya menjadi gema dendang penyair. (Semi, 1984: 109).
Menurut Teeuw (1983: 23) masalah irama belum ada yang tahan uji di dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan karena bahasa Indonesia tidak mempunyai aturan dalam persoalan tekanan kata. Dengan demikian metrum hampir di katakan tidak ada di dalam sajak-sajak Indonesia. Kalaupun ada metrum itu bersifat individual yang digunakan tanpa patokan atau aturan tertentu karena metrum disandarkan pada suku kata. Hal itu dapat dipahami karena bahasa Indonesia di dalam sajak-sajak lebih bersandar pada kata. Mungkin yang terasa mempunyai metrum adalah pantun dan syair.
Di dalam sajak-sajak Indonesia hal yang lebih menonjol, secara sadar atau tidak adlah ritmenya. Ritme ini dapat timbul dengan mempertentangkan bunyi, perulangan serta membuat pola tertentu dengan memilih kata dengan bunyi yang cocok.
Adanya irama didalam sajak selain menyebabkan sajak terdengar merdu, juga menyebabkan sajak enak untuk dibaca. Dengan mengetahui irama di dalam sajak, penikmat sajak dengan mudah pula menentukan tekanan dan jeda. Hal ini amat membantu terhadap proses penikmatan dan pemahaman terhadap sajak yang dihadapi.
2.      Kakafoni dan Efoni
Kakafoni dan efoni ialah pemanfaatan bunyi sedemikian rupa sehingga bunyi yang dirangkai di dalam sajak dapat menimbulkan kesan yang cerah serta sebaliknya, suatu kesuraman. Kesan buram timbul karena bunyi yang dirangkai berasal dari konsonan tak bersuara seperti /k/, /p/, /t/, /s/. Penggunaan bunyi konsonan tersebut menciptakan persaan jiwa yang tertekan gelisah bahkan yang memuakkan. Karena menggambarkan perasaan yang demikian, akibatnya yang muncul adalah kesan suasana buram. Pemanfaatan unsur bunyi yang memunculkan efek semacam ini disebut dengan istilah kakafoni (ca-caphony).
Kebalikan dari keburaman adalah kesan suasana cerah adalah kesan yang membangkitkan keceriaan dan rasa riang serta nyaman. Kesan suasana cerah muncul karena bunyi-bunyi yang dirangkaikan berasal dari bunyi vokal serta konsonan bersuara. Kesan ini juga dapat dihadirkan dengan memanfaatkan bunyi sengau yang dirangkai sedemikian rupa. Bunyi sengau tersebut ditata sehingga menimbulkan kesan merdu dan enak didengar.
Penggunaan unsur bunyi yang dilakuakan dengan cara demikian, menciptakan bunyi-bunyi yang ringan dan lembut, mesra dan bahagia. Contohnya pada sajak Episode (Rendra), pembaca digiring serta pada suasana keriangan sajak. Pemanfaatan unsur bunyi yang sedemikian itu dikenal dengan istilah efoni (euphony).
3.      Onomatope
Salah satu pemanfaatan unsur bunyi yang cukup dominan dalam sajak adalah onomatope. Istilah onomatope menurut kamus istilah sastra (Sudjiman, 1984: 54) adalah penggunaan kata yang mirip dengan bunyi atau suara yang dihasilkan oleh barang, gerak, atau orang.
Penggunaan tiruan bunyi dimaksudkan untuk mengkonkretkan suasana menjadi lebih lugas. Misalnya peniruan bunyi itu dapat dilakukan atau dihasilkan oleh barang, ”gemercik air pencuran”, ”desau angin”, ”derap langkah kuda” adalah onomatope. Penggunaan tiruan bunyi seperti hal-hal di atas sering ditemukan didalam sajak.
4.      Aliterasi
Pemanfaatan dengan cara mengulang pemakaian bunyi. Pengulangan bunyi itu berupa pengulangan bunyi yang sama. Pengulangan bunyi konsonan yang sama disebut aliterasi. Pengulangan bunyi yang dapat dikategorikan pada bunyi aliterasi adalah pengulangan bunyi secara dominan. Misalnya sajak Sepisupi Sutardji Calzoum Bachri, dapat dipahami bahwa aliterasi yang digunakan pada sajak tersebut adalah persamaan serta perulangan bunyi /s/ pada awal kata setiap barisnya.
5.      Asonansi
Asonansi adalah pemanfaatan unsur bunyi secara berulang-ulang dalam satu baris sajak. Halnya sama dengan alitelerasi hanya pengulangan disni merupakan pengulangan bunyi-bunyi vokal. Efek yang di harapkan muncul dari pemanfaatan bunyi vokal secara berulang ini adalah kemerduan bunyi. Sebagaimana aliterasi, asonansi pun tidak semua pengulangan bunyi vokal dapat disebut asonansi. Pengulangan bunyi yang sama secara dominan (di dalam sajak) yang dapat di kategorikan sebagai asonansi.
Asonansi ini contohnya terdapat pada sajak Chairil Anwar yang berjudul Cintaku Jauh Di Pulau, menggunakan unsur asonansi untuk menciptakan kemerduan bunyi, misalnya asonansi a dan u pada cintaku jauh di pulau kemudian juga dimanfaatkan asonansi a pada perahu melancar, bulan memancar.
6.      Anafora dan Epifora
Anafora dan epifora cara menggunakan unsur bunyi yang berulang-ulang dalam bentuk kata atau bentukan linguistik pada awal atau akhir tiap-tiap larik atau baris sajak. Pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang sama pada awal larik disebut anafora, sedangkan pengulangan bunyi dalam bentuk kata yang sama pada akhir larik-larik sajak disebut epifora.
Pengulangan kata yang sama menimbulkan pengulangan bunyi yang sama beberapa kali, dapat menimbulkan kesan sugestif pada sebuah sajak. Kesan sugestif ini diharapkan dapat membujuk pembaca untuk melebur dengan sajak yang sedang dinikmati. Di dalam perkembangan kesusastraan Indonesia, para penyair lebih cenderung memanfaatkan anafora di banding epifora.
Untuk memanfaatkan unsur bunyi ini diperlukan kecermatan serta keahlian penyair, sehingga bunyi yang dihasilkan serta merta menggoda telinga karena bunyi yang menarik untuk di simak lebih jauh, unsur bunyi diramu dan ditata oleh penyair di dalam sajak. Kepuitisan diharapkan dapat menimbulkan keharuan. Karena, keharuan pembacalah yang dapat mengantarkan pembaca menemukan sebuah dunia, dunia sebuah sajak. Dunia yang dapat memberikan kepuasan dan kenikmatan batin bagi para penikmat sajak.

Puisi Fenomenal dalam Dunia Sastra "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono Identitas Buku Judul: Hujan Bulan Juni Penulis:  Sapardi Djoko Damono ...